Page 40 - Petani Indonesia Dalam Belenggu Pasar Bebas
P. 40
Petani Indonesia Dalam Belenggu Pasar
karena keterbatasan tempat penyimpanan. Mekanisme penentuan harga di desa
Cikuntul lebih banyak di kendalikan oleh pihak yang mereka sebut sebagai Calo. Calo
ini berkuasa atas harga yang ada di wilayah tersebut, dimana mereka mendapatkan
persentase dari tengkulak atas keuntungan pembelian dari petani. Mereka bergerak
seperti mafia, yang mengatur kata sepakat akan tingkat harga diantara tengkulak yang
masuk ke desa Cikuntul. Jika ada tengkulak yang membeli harga yang lebih tinggi maka
akan berisiko mendapatkan intimidasi atau persentase yang lebih besar dari
keuntungan pembelian tengkulak tersebut.
Keberadaan calo tersebut membuat faktor pembentukan harga dalam rantai pasokan
tidak berlangsung sempurna, dan membuat petani menjadi pihak yang paling
dikorbankan dan mendapatkan keuntungan yang rendah. Inefisiensi dalam rantai
pasokan membuat distibusi keuntungan dalam mata rantai pasokan tidak berlangsung
secara adil sesuai dengan pengorbanan masing masing pihak yang terlibat dalam
rantai pasokan.
Hal yang menarik adalah petani di desa Cikuntul menjual sebagian besar gabah
mereka dan menyimpan sesuai kebutuhan. Semakin besar skala usaha tani maka
penyimpanan sebagai stok pangan keluarga semakin besar. Petani miskin, terpaksa
menjual hampir semua gabah mereka karena terdesak kebutuhan hidup, dan ketika
stok beras mereka menipis maka mereka membeli beras di warung atau berhutang
beras kepada tetangga yang memiliki stok berlebih.
Pada dua musim tanam terakhir petani menyatakan mendapatkan harga yang cukup
baik yaitu Rp. 2200‐ 2500/kg untuk gabah kering panen. Dua musim ini harga relatif
stabil, namun tingkat produksi mereka menurun walaupun tidak drastis akibat
ketidakpastian musim. Mereka berharap pada musim berikutnya harga terus stabil
sehingga bisa menikmati keuntungan dari jerih payah mereka dalam mengelola usaha
tani padi.
d. Dampak Pasar Bebas
Petani padi di desa Cikuntul secara umum menyatakan bahwa pasar bebas akan
mempengaruhi kehidupan petani. Petani mengkhawatirkan kalau pasar dibuka secara
bebas maka akan masuk beras yang harganya lebih murah ke Indonesia, sehingga akan
menurunkan harga gabah petani di Indonesia. Berdasarkan pengalaman petani,adanya
isu impor beras di media televisi saja, sudah dimanfaatkan oleh tengkulak untuk
menekan harga petani apalagi kalau pasar bebas diterapkan.
Petani menyatakan ketidaksetujuan ketika peran pemerintah berkurang dalam
pengaturan pemasaran, dalam pasar bebas. Kalau harga beras diserahkan pada
Implikasi Pasar Bebas Bagi Petani: Kasus‐kasus Lapangan 32

