Page 45 - Petani Indonesia Dalam Belenggu Pasar Bebas
P. 45
Petani Indonesia Dalam Belenggu Pasar
pedagang, karena mereka mengaku bahwa mereka juga memiliki resiko dalam hal
pengangkutan dimana mereka harus mengeluarkan ongkos transport, termasuk
pungutan baik resmi maupun tak resmi sebanyak 5‐8 kali antara Sukabumi menuju
Bogor/Jakarta.
Informasi harga dan pasar dalam rantai pasokan bersifat asimetris,artinya ketika harga
turun maka informasi tersebut sangat cepat diterima petani sementara jika harga naik
maka informasi tersebut lambat diterima petani. Hal ini menggambarkan bahwa
petani tidak berdaya dalam penguasaan informasi harga pasar.
Pola pola pemasaran yang berkembang adalah petani menjual kepada pedagang
perantara, dan sangat sulit petani untuk menjual langsung ke pasar. Hal ini disebabkan
infrastruktur jalan yang buruk serta ongkos transportasi yang mahal. Sementara itu
ada kecenderungan penguasaan wilayah oleh tengkulak tertentu, karena hanya ada
tiga orang tengkulak besar, sementara tengkulak tengkulak kecil menampung hasil
petani untuk kemudian dijual ke tengkulak besar yang sekaligus pemilik alat
transportasi dan toko sarana produksi pertanian.
Situasi rantai pasokan dan penguasaan tengkulak tersebut semakin memberatkan
petani terutama dalam memperoleh harga yang adil dan keuntungan yang layak.
Berbagai program pemerintah tidak sampai menjangkau pada aspek pemasaran dan
lebih banyak pada program pengembangan kapasitas produksi seperti pelatihan.
d. Dampak Pasar Bebas
Petani berpendapat situasi pasar bebas yang ditandai dengan membanjirnya produk
sayuran impor adalah karena pemerintah melakukan pembiaran terhadap masuknya
produk impor. Petani menyatakan bahwa pemerintah sudah tidak lagi membedakan
mana petani Indonesia dan petani negara lain, karena yang penting ada kecukupan
untuk konsumen. Hal ini sangat tidak adil karena petani di negara kaya, memiliki
teknologi yang lebih maju sehingga bisa menjual produk menjadi lebih murah,
sementara petani dalam negeri tidak mendapatkan dukungan apa apa. Petani
mengkhawatirkan dampak pasar bebas seperti sekarang ini, karena akan mematikan
kehidupan petani dan sektor pertanian Indonesia.
Dalam situasi pasar bebas, petani tidak akan mampu bersaing dengan petani dari
negara maju jika pemerintah tidak memberikan subsidi kepada petani. Sayangnya,
subsidi yang diberikan pemerintah tidak pernah dinikmati petani. Misalnya subsidi
pupuk urea, yang terjadi adalah petani tetap saja tidak bisa merasakan karena yang
menerima adalah kelompok petani yang dekat dengan pemerintah. Pemerintah harus
merubah pola distribusi subsidi agar betul betul efektif dirasakan petani.
Implikasi Pasar Bebas Bagi Petani: Kasus‐kasus Lapangan 37

