Page 47 - Petani Indonesia Dalam Belenggu Pasar Bebas
P. 47
Petani Indonesia Dalam Belenggu Pasar
semakin intensif diperkuat seperti pertemuan petani lintas komoditas di Bogor, yang
paling tidak memberikan kesempatan belaja untuk petani dalam mengemukakan
pendapat.
3. Kasus Petani Apel di Batu, Malang
Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang kaya akan berbagai jenis buah
buahan tropis. Kita sering terdengar istilah produk unggulan pertanian dan sebagian
besar diasosiasikan dengan jenis buah dan nama lokasi dimana buah tersebut
dihasilkan. Misalnya, Mangga Indramayu, Jeruk Brastagi, Apel Malang, Duku
Palembang, Salak Bali dan lain sebagainya, yang memberikan kebanggaan oleh karena
rasa maupun kualitas yang unggul dari produk buah tersebut.
Sekarang pamor buah unggulan lokal mulai tersaingi dengan membanjirnya produk
buah impor. Dulu buah impor hanya bisa ditemui di pasar swalayan atau supermarket,
namun kini buah seperti Jeruk Mandarin, Apel Washington, Pear, Kiwi begitu mudah
didapatkan di sejumlah pasar tradisional. Peningkatan impor buah buahan tersebut
diakibatkan oleh pemicu karena penurunan tarif impor hortikultura secara drastis
akibat komitmen terhadap perjanjian perdagangan bebas, sehingga secara drastis
mengakibatkan membanjirnya produk buah buahan impor dalam satu dekade
terakhir.
Keberadaan buah impor juga mampu menggeser preferensi pada awalnya konsumen
perkotaan berpenghasilan menengah keatas, sekarang juga konsumen kelas
menengah ke bawah bahkan sampai ke pelosok pedesaan. Hal ini mendorong tingkat
permintaan akan buah impor semakin meningkat, dan dari negara asal yang beragam.
Menurut data dari Badan Karantina Pertanian (2004), untuk produk apel segar, total
importasi mencapai 105.821,23 ton pada tahun 2004 dengan frekwensi pemasukan
sebanyak 2311. Berdasarkan data tersebut, negara asal dari impor apel segar tercatat
dari 20 negara yang memasuki berbagai pelabuhan dan pemeriksaan stasiun karantina
di 10 lokasi. Jumlah ini meningkat dari tahun 2000 sebesar 73.426 ton.
Hal tersebut menggambarkan bahwa terjadi peningkatan permintaan secara drastis,
dengan rantai pasokan yang berasal dari berbagai negara melalui pintu masuk di
berbagai pelabuhan yang tersebar di Indonesia. Dan jumlah tersebut diperkirakan
akan terus meningkat sejalan dengan permintaan dan pergeseran preferensi
konsumen dari apel lokal ke apel impor.
Tarif impor rata rata untuk produk buah buahan berkisar 5%, diduga sebagai pemicu
membanjirnya buah impor. Hal ini disebabkan sejak ratifikasi WTO dan AFTA ada
komitmen untuk menurunkan tarif dari 26,1% pada tahun 1994 hingga 5% pada tahun
Implikasi Pasar Bebas Bagi Petani: Kasus‐kasus Lapangan 39

