Page 43 - Petani Indonesia Dalam Belenggu Pasar Bebas
P. 43

Petani Indonesia Dalam Belenggu Pasar
                     Sementara itu karakteristik rantai pasokan produk hortikultura domestik sangat tidak
                     efisien  dimana  rantai  pasokan  dikuasai  oleh  pedagang  perantara  dan  tidak  ada
                     distribusi keuntungan yang adil bagi para pelaku rantai pasokan. Situasi semakin berat
                     ketika  petani  dihadapkan  pada  semakin  tingginya  biaya  produksi,  sementara  nilai
                     tukar produk hortikultura mereka tidak mampu mengejar nilai kebutuhan hidup sehari
                     hari yang semakin meningkat. Situasi ini membuat petani menerima keuntungan yang
                     paling  rendah  dalam  mata  rantai  pasokan,  walaupun  resiko  yang  diterima  paling
                     tinggi.

                     Namun  demikian  produk  hortikultura  terutama  sayuran  masih  tertolong  dengan
                     pangsa pasar dalam negeri yang masih luas, terutama untuk sayuran utama seperti
                     cabe, tomat, kentang dan sayuran daun. Peningkatan pangsa pasar ini dalam jangka
                     panjang tidak akan bisa dinikmati oleh petani, jika peningkatan sayuran impor semakin
                     besar.  Untuk  itu  pemerintah  perlu  memperkuat  kelembagaan  produksi,  intervensi
                     untu efisiensi rantai pasokan serta menerapkan tarif yang sesuai untuk perlindungan
                     produk sayuran domestik.

                     a.  Gambaran Lokasi Studi

                     Studi  dilakukan  di  desa  Cipeuteuy,  Kecamatan  Kabandungan,  Kabupaten  Sukabumi,
                     yang merupakan desa di kaki Gunung Salak Halimun. Desa ini terletak 7 km dari pusat
                     kecamatan,  dan  lebih  dari  30  km  dari  pusat  kota  Sukabumi.  Daerah  ini  merupakan
                     daerah penghasil sayuran terutama cabai, tomat dan sayuran daun. Masyarakat desa
                     Cipeuteuy,  berjumlah  sekitar  3200  keluarga  dimana  75  persen  merupakan  petani
                     sayuran. Rata rata kepemilikan lahan sangat rendah yaitu 0,15 hektar per keluarga,
                     dimana  sebagian  besar  mereka  menggarap  di  lahan  miliki  negara  eks  HGU,  lahan
                     hutan yang sudah terkonversi, serta tanah tanah absentee yang dimiliki oleh orang
                     dari  luar  desa.  Masyarakat  secara  umum  menggantungkan  pendapatannya  dari
                     pertanian sayuran dan hasil hutan.

                     Produksi sayuran dari daerah ini memasok untuk kebutuhan pasar di Sukabumi, Bogor,
                     Jakarta  dan  Tangerang.  Pola  tanam  petani  mengandalkan  satu  produk  utama,  dan
                     diselingi  oleh  beberapa  jenis  sayuran  yang  lain.  Pilihan  akan  jenis  tanaman  sebagai
                     produk utama secara umum didasarkan atas informasi dan pengetahuan petani atas
                     harga yang terakhir, sehingga tidak jarang terjadi over produksi untuk tanaman jenis
                     tertentu. Beberapa petani terutama yang tergabung dalam kelompok tani dampingan
                     NGO mulai menerapkan pengurangan input kimia dan prinsip pertanian berkelanjutan,
                     namun  harga  yang  mereka  terima  sama  dengan  produk  dengan  perlakuan  intensif
                     walaupun kualitasnya lebih baik.




                     Implikasi Pasar Bebas Bagi Petani: Kasus‐kasus Lapangan                           35
   38   39   40   41   42   43   44   45   46   47   48