Page 48 - Petani Indonesia Dalam Belenggu Pasar Bebas
P. 48
Petani Indonesia Dalam Belenggu Pasar
1998. Upaya untuk menahan serbuan impor dilakukan, ketika Departemen Pertanian
berusaha untuk menaikkan tarif hingga 25%. Namun upaya tersebut selain mendapat
tekanan dari negara mitra dagang, juga mendapat tentangan dari dalam negeri
terutama Asosiasi Eksportir dan Importir Buah dan Sayuran Segar Indonesia. Bentuk
bentuk tekanan tidak hanya bertumpu pada masalah tarif bahkan terkait dengan
tekanan pada aspek perkarantinaan. Seperti yang dirilis oleh Antara News (2007),
Pemerintah Amerika Serikat mendesak Indonesia dalam hal ini Badan Karantina
Pertanian untuk memberikan izin bagi masuknya Apel Washington tanpa perlakuan
Karantina. Untuk buah buahan dari China, Departemen Pertanian tidak bisa
menerapkan tarif impor karena terikat dalam perjanjian perdagangan bebas Cina‐
ASEAN (CAFTA).
Dengan situasi tersebut maka pasar bebas menjadi sebuah kenyataan bagi produk
buah buahan unggulan nasional dan terutama bagi petani produsen buah tersebut.
Studi ini memfokuskan untuk memperdalam satu kasus produk buah unggulan yakni
Apel Batu sangat terkenal sebagai salah satu produk unggulan dan khas mengenai
bagaimana situasi produksi dan pasarnya terutama terkait dengan kehidupan
produsennya yaitu petani apel di Kota Batu, Malang. Hal ini akan memberikan
gambaran secara lebih jelas, sebagai kasus bagaimana produk unggulan berhadapan
dengan situasi pasar bebas yang digerakkan oleh kebijakan liberalisasi pertanian yang
radikal.
Apel yang tumbuh di kota Batu, Malang memang sangat unik karena hanya di tempat
itu varietas apel tersebut tumbuh. Apel Batu diperkirakan mulai ditanam sejak jaman
Kolonial Belanda mencapai kejayaan pada tahun 1980‐1996. Menurut Dinas Pertanian
Kota Batu dari 63 varietas apel asli Malang hanya 6 varietas yang masih bertahan
hingga saat ini yaitu Manalagi, Room Beauty, Anna, Princes Bubble, Wang Lin dan
Winter Banana. Keenam varietas ini uniknya justru tidak tumbuh jika ditanam di
tempat lain. Ada upaya untuk menguji 13 jenis bibit apel dari Belanda, namun jusru
gagal untuk tumbuh di iklim kota Batu.
Menurut data dari Pemda Kota Batu (2004), produksi apel pada tahun 2001 mencapai
32.528 ton dan pada tahun 2004 menjadi 31.612 ton. Namun demikian yang menarik
adalah jumlah petani apel dan luas areal tanam justru meningkat yaitu 7.092 petani
yang mengelola lahan 2.126 hektar pada tahun 2001, menjadi 7.110 petani yang
mengelola 2.136 hektar pada tahun 2004.
a. Gambaran Lokasi Studi
Studi dilakukan di dusun Wonorejo, Desa Tulungrejo, Batu Malang. Wilayah ini
merupakan dataran tinggi, dan jalur daerah wisata di Kota Batu. Sebagian besar
Implikasi Pasar Bebas Bagi Petani: Kasus‐kasus Lapangan 40

