Page 53 - Petani Indonesia Dalam Belenggu Pasar Bebas
P. 53

Petani Indonesia Dalam Belenggu Pasar
                     a.  Gambaran Umum Lokasi

                     Studi  dilakukan  di  desa  Pangkal,  Kecamatan  Sawoo,  Kabupaten  Ponorogo.  Desa  ini
                     terletak  tidak  jauh  dari  perbatasan  antara  Kabupaten  Trenggalek  dan  Ponorogo  di
                     Propinsi  Jawa  Timur.  Sebagian  besar  petani  di  desa  ini  menanam  jagung,  karena
                     ditunjang oleh situasi alam yang secara topografis berbukit dan jauh dari akses sumber
                     air  pada  kebun  kebun  mereka.  Diskusi  dilakukan  dengan  beberapa  petani  jagung
                     terkait dengan aspek pasar dan implikasinya bagi kehidupan mereka.

                     b.  Masalah Utama

                     Masalah  umum  yang  dihadapi  oleh  petani  jagung  adalah  rendahnya  harga.  Harga
                     jagung  pada  waktu  studi  adalah  antara  Rp.  1800/kg  pada  awal  musim  panen  dan
                     kemudian menurun sampai Rp. 1500/kg. Oleh karena skala usaha yang kecil, dimana
                     rata rata kepemilikan lahan untuk tanaman jagung adalah dibawah 100 meter persegi
                     maka keuntungan menjadi semakin kecil.

                     Masalah  kedua  adalah  tingginya  biaya  produksi  jagung  terutama  untuk  kebutuhan
                     benih  hibrida  dan  biaya  perawatan  seperti  pupuk  dan  pestisida.  Peningkatan  biaya
                     produksi terutama untuk benih yang terutama diproduksi perusahaan transnasional
                     seperti Pioneer dan PT BISI. Harga benih jagung dari PT BISI mencapai Rp. 26.000/kg
                     sementara untuk Pioneer mencapai Rp. 46.000/kg.

                     Situasi pasar jagung dikuasai oleh tengkulak, dan yang menarik adalah terdapat pola di
                     desa ini dimana produk jagung dijual oleh tengkulak kepada pemasok jagung untuk
                     pabrik  pakan  ternak  PT.  Charoen  Phokpand  yang  tidak  lain  merupakan  perusahaan
                     Thailand  yang  merupakan  pemegang  saham  dari  PT  BISI  produsen  benih  jagung.
                     Dengan demikian sesungguhnya terjadi penguasaan dari hulu dan hilir dari produksi
                     jagung oleh perusahaan transnasional dalam kepemilikan yang sama.

                     Liberalisasi di sektor jagung dalam ditandai dengan menguatnya investasi pada sektor
                     perbenihan dimana perusahaan seperti BISI, MONSANTO dan Pioneer Hi‐Breed telah
                     menguasai segmen hulu dari sistem produksi jagung nasional terutama dalam benih
                     hibrida  dan  pestisida.  Sementara  itu  pada  segmen  hilir,  perusahaaan  pakan  ternak
                     skala  besar  seperti  PT.  Charoen  Phokpand  memperoleh  keuntungan  dari  pasokan
                     jagung untuk kontinuitas produksi pakan ternak.

                     c.  Rekomendasi Petani

                     Petani  jagung  mengharapkan  adanya  perlindungan  pemerintah  terutama  dalam
                     kepastian harga yang layak bagi petani. Sebagian besar dari petani adalah petani skala


                     Implikasi Pasar Bebas Bagi Petani: Kasus‐kasus Lapangan                           45
   48   49   50   51   52   53   54   55   56   57   58