Page 49 - Petani Indonesia Dalam Belenggu Pasar Bebas
P. 49
Petani Indonesia Dalam Belenggu Pasar
masyarakat merupakan petani yang menanam berbagai jenis produk hortikultura
terutama apel sebagai produk andalan wilayah ini. Tanaman apel pada awalnya
ditanam di kebun kebun sekitar rumah, namun karena tekanan pembangunan
pariwisata dan pertumbuhan kota maka sebagian besar kebun yang berlokasi di sisi
jalan telah dijual dan menjadi bangunan.
Ada kecenderungan petani membuka kebun apel menuju kearah hulu yang
merupakan kawasan hutan produksi. Kecenderungan ini dikarenakan karena tekanan
pembangunan di wilayah hilir, sementara petani membutuhkan akses lahan untuk
kehidupan mereka. Hal ini dalam jangka panjang akan mempengaruhi daya dukung
lingkungan, karena konversi hutan menjadi kebun kebun apel dan pertanian lainnya.
b. Masalah Utama
Masalah pertama dan mengemuka dalam diskusi adalah tekanan apel impor terhadap
apel lokal. Petani menyatakan bahwa sebelum tahun 2000,kondisi petani sangat
makmur bahkan ada yang bisa beli mobil karena mengandalkan keuntungan dari
pertanian apel,namun setelah tahun 2000 pertanian apel di Batu hancur, kondisi
perekonomian petani turun drastis bahkan banyak petani menjual tanahnya. Kondisi
ini diakibatkan harga apel yang tidak pasti (fluktuatif) sementara harga sarana
produksi naik terus, kebutuhan hidup semakin mahal. Petani merasa bahwa dengan
kebijakan pembukaan pasar untuk apel impor telah menekan harga apel lokal. Selain
itu konsumen terutama yang berpenghasilan menengah keatas dan kaum muda tidak
lagi menyukai apel lokal dan lebih memilih apel impor. Harga apel rata rata tidak
beranjak dari Rp. 3000/kg untuk jenis manalagi, Rp. 4000/kg untuk jenis Ana dan Rp.
5000/kg untuk jenis Wang Ling sementara harga sarana produksi terus melonjak naik.
FGD Petani. Suasana Diskusi
petani Malang
Implikasi Pasar Bebas Bagi Petani: Kasus‐kasus Lapangan 41

