Page 39 - Petani Indonesia Dalam Belenggu Pasar Bebas
P. 39
Petani Indonesia Dalam Belenggu Pasar
b. Masalah Utama
Masalah utama yang menjadi prioritas dalam diskusi bersama petani Cikuntul adalah
masalah pasar. Mereka mengeluhkan harga gabah mereka tidak pernah mencapai
harga dasar yang ditetapkan sebagai harga pembelian pemerintah. Janji pemerintah
untuk mengefektifkan mekanisme pembelian gabah petani oleh BULOG tidak pernah
dialami petani di desa ini. Petani menjual gabah kepada tengkulak, dan tidak memiliki
posisi tawar untuk meningkatkan harga. Sementara itu harga gabah dari tahun ke
tahun berkompetisi dengan kenaikan harga pupuk, sehingga semakin lama margin
keuntungan petani terus menurun. Selain faktor iklim, fluktuasi harga gabah
disebabkan oleh permainan pada tingkat pedagang.
Masalah kedua adalah persoalan ledakan hama dan penyakit tanaman padi. Tingkat
kerentanan yang tinggi dari tata produksi monokultur skala luas dan aplikasi pestisida
besar besaran membuat resiko ledakan hama dan penyakit menjadi sangat tinggi.
Tingkat serangan yang tinggi membuat petani membelanjakan biaya lebih besar untuk
kebutuhan pestisida, sementara harga pestisida semakin meningkat dari tahun ke
tahun.
Masalah lain adalah ketidakstabilan iklim, yang membuat petani kesulitan
merencanakan penanaman. Pergeseran musim tanam terjadi pada tahun 2006 dan
2007, bahkan sampai 3 bulan karena petani kesulitan dalam ketersediaan air. Namun
pada waktu tertentu musim hujan datang dengan curah hujan yang sangat tinggi, yang
merusak tanaman padi. Kedua masalah terakhir berakibat pada penurunan tingkat
produksi yang pada akhirnya mempegaruhi pendapatan.
Masalah yang juga terungkap adalah kerusakan irigasi yang membuat petani kesulitan
dalam mendapatkan air. Kerusakan irigasi dalam bentuk pendangkalan dan kerusakan
fisik saluran sudah sangat parah, sehingga tidak jarang pada musim kering petani
berebut air bahkan sampai pada aksi kekerasan.
c. Rantai Pasokan
Secara umum petani merasa tidak kesulitan dalam menjual gabah mereka. Banyaknya
tengkulak yang datang ke desa, membuat petani tidak perlu berinvestasi untuk
penyimpanan dan pengiriman karena pada masa sebelum panen pun tengkulak sudah
mulai melakukan transaksi.
Petani tidak bisa menjual dalam bentuk beras, karena tertekan akan kebutuhan biaya
yang harus segera dipenuhi dan tidak mau mengambil resiko akan penurunan mutu
Implikasi Pasar Bebas Bagi Petani: Kasus‐kasus Lapangan 31

