Page 37 - Petani Indonesia Dalam Belenggu Pasar Bebas
P. 37
Petani Indonesia Dalam Belenggu Pasar
petani, dan mempromosikan penggunaan benih padi hibrida melalui penyediaan
dalam negeri maupun impor, terutama dari China.
Kran impor benih untuk dibuka untuk mendukung P2BN, yang membuat berbagai
perusahaan besar baik nasional maupun transnasional berminat untuk melakukan
investasi di perbenihan padi hibrida ini. Subsidi benih telah menjadi perangsang bagi
perusahaan agribisnis skala besar untuk memulai penguasaan pada benih padi, yang
selama ini didominasi oleh BUMN milik pemerintah. Berbagai kerjasama program
untuk pengembangan padi hibrida dilakukan terutama dengan China, karena
pemerintah sangat terinspirasi dari “kesuksesan” China dalam pengembangan padi
hibrida yang diklaim mampu meningkatkan produksi padi secara signifikan.
Dengan deskripsi umum mengenai kebijakan dan situasi perberasan tersebut,
menggambarkan bahwa sektor perberasan telah mengalami liberalisasi seperti yang
menjadi komitmen dalam WTO maupun atas tekanan IMF. Oleh karena sensifitas
secara politik maka pemerintah berupaya untuk memberikan perlindungan terhadap
sektor perberasan untuk mengurangi dampak perdagangan bebas terhadap sektor ini.
Namun ironisnya, upaya keras untuk perlindungan dalam konteks perundingan
perdagangan multilateral tidak sejalan dengan kebijakan dalam negeri. Kebijakan
pelarangan impor beras hanya bertahan setahun, program subsidi pupuk tidak
berjalan sesuai dengan sasaran, BULOG sebagai lembaga penyangga stok dan harga
tidak berfungsi efektif karena privatisasi menjadi perusahaan umum, serta subsidi
benih justru menjadi windows opportunity bagi perusahaan transnasional untuk
penguasaan terhadap perbenihan padi.
a. Gambaran Umum Lokasi Studi
Studi lapangan dilakukan di Desa Cikuntul, Kecamatan Tempuran, Kabupaten
Karawang yang merupakan salah satu sentra produksi beras nasional. Kabupaten
Karawang memiliki luas areal sawah sekitar 90.000 hektar, didukung oleh sistem irigasi
teknis untuk pertanian padi secara intensif. Pertanian padi di Karawang sangat
strategis karena memasok kebutuhan beras untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Karawang sering menjadi barometer produksi beras nasional, gangguan tehadap
produksi di Karawang sering dijadikan tolok ukur keberhasilan program peningkatan
produksi beras.
Desa Cikuntul terletak di 20 km dari pusat kota Karawang, ke arah pantai utara Pulau
Jawa. Desa Cikuntul memiliki luasan sawah 350 hektar, dimana hampir semua sawah
tersebut diusahakan untuk budidaya padi. Pertanian padi merupakan sumber
penghidupan utama masyarakat desa ini, dimana sekitar 30 persen dari total
Implikasi Pasar Bebas Bagi Petani: Kasus‐kasus Lapangan 29

