Page 32 - Petani Indonesia Dalam Belenggu Pasar Bebas
P. 32
Petani Indonesia Dalam Belenggu Pasar
mengemukakan pendapat, merumuskan masukan sekaligus secara langsung
menyampaikan aspirasi kepada pemerintah dalam forum internasional. KRKP
menyadari bahwa selama ini peran dan partisipasi petani dalam menyampaikan
aspirasi masih terbatas, dan lebih banyak diwakili oleh lembaga perwakilan baik itu
pemerintah maupun lembaga non pemerintah. Untuk itu inisiatif ini akan menjadi
terobosan untuk memberikan ruang bagi petani untuk terlibat secara langsung dalam
proses perjuangan dalam forum advokasi kebijakan pada tingkat nasional maupun
internasional.
Sarasehan Petani.
Suasana Diskusi
dihadiri petani dari
berbagai daerah
Dalam diskusi muncul sebuah situasi umum dimana berbagai komoditas yang
dianggap unggulan menghadapi tantangan yang besar akibat situasi pasar yang tidak
adil bagi petani. Buah buahan kebanggaan seperti Apel Malang mengalami tekanan
hebat akibat derasnya arus apel impor ke pasaran domestik. Bawang Merah Brebes,
yang merupakan sentra produksi bawang merah terbesar di Asia Tenggara jatuh
bangun menghadapi tekanan bawang impor, apalagi bawang putih di Tegal yang kini
tinggal kenangan. Pangalengan terkenal dengan sentra produksi kentang, namun kini
mendapatkan masalah serius terkait dengan hama dan penyakit akibat masuknya
penyakit baru terkait dengan benih kentang impor, dan pasar pun tertekan oleh
keberadaan kentang impor. Udang merupakan produk andalan petani tambak di
Karawang yang mengalami masa jaya pada era 1980‐1990, kini menghadapi kesulitan
biaya produksi akibat naiknya berbagai sarana dan prasarana produksi, dan peluang
ekspor kini tinggal kenangan masa lalu. Tak terkecuali beras, makanan pokok
Implikasi Pasar Bebas Bagi Petani: Kasus‐kasus Lapangan 24

