Page 26 - Petani Indonesia Dalam Belenggu Pasar Bebas
P. 26
Petani Indonesia Dalam Belenggu Pasar
Kerjasama ekonomi Indonesia dan Jepang akan memberikan implikasi bagi sektor
pertanian. Selama ini beberapa skema bantuan teknis di sektor pertanian difasilitasi
melalui Overseas Develoment Authority (ODA), Japan Bank of International
Cooperation (JBIC) dan Japan International Cooperation Agency (JICA). Sementara itu
pada tahun 1998 dan 2000 melalui skema Second Kennedy Round (SKR) Pemerintah
Jepang memberikan hibah traktor tangan dan pupuk. Berbagai bantuan ini telah
berimplikasi pada kekuatan pemasaran produk alat dan mesin pertanian di Indonesia,
terutama traktor tangan dan mesin penggilingan padi yang mayoritas merupakan
produk dari Jepang. Dalam jangka panjang, Jepang juga berencana untuk
mengembangkan bio‐diesel di Indonesia (Dirjen Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil
Pertanian, 2004)
3. FTA Indonesia – Amerika Serikat
FTA Indonesia dan Amerika Serikat sesungguhnya telah direncanakan sejak lama,
namun sempat terhenti dan mulai diintensifkan untuk melanjutkan US‐Indonesia
Trade and Investment Agreement (TIFA) yang telah ditandatangani sejak tahun 1997.
Kesepakatan FTA diharapkan akan terjadi pada tahun 2008 ini.
Hubungan dagang dan ekonomi antara Indonesia dengan USA tidak pernah simetris
karena USA lebih penting bagi Indonesia daripada Indonesia bagi USA. USA adalah
negara tujuan ekspor terbesar kedua bagi Indonesia dan negara sumber impor
terbesar kedua bagi Indonesia. Sedangkan ekspor Indonesia ke USA hanya 0.4% dari
total impor USA dan impor Indonesia dari USA hanya 0.8% dari total ekspor USA (BPS,
2002). Jika menilik dari hal ini sepertinya USA menjalankan BTA dengan Indonesia
bukan untuk kepentingan ekonomi semata, tetapi lebih pada menjaga kepentingan
politik dan hankam melalui perdagangan.
Ekspor utama Indonesia ke USA meliputi tekstil dan apparel, furnitur, karet dan
minyak mentah serta udang dan coklat (BPS, 2002). Beberapa produk eskpor ini
menghadapi masalah memasuki pasar USA. Pada produk tekstil dan apparel, Indonesia
mengalami masalah kuota ekspor yang rendah dan kompetisi dari negara lain dengan
dihapusnya kuota sejak Januari 2005. Masalah lain yang dihadapi adalah standar
dimana banyak produk pertanian Indonesia (produk perikanan, coklat dan rempah‐
rempah) tidak memenuhi standar BPOM USA. Cokelat dari Indonesia dilarang karena
bermasalah dengan hama. Udang dari Indonesia berstatus ‘tidak bersertifikat’ dan
ekspor jus ke USA memerlukan sertifikasi. Untuk mengatasi hal ini, Indonesia
membuat perjanjian bersama dan bantuan teknis untuk meningkatkan kualitas dan
menguatkan standar sanitasi. Karena kekuatiran USA akan bioterorisme dari
Indonesia, semua ekspor makanan dan pakan dari Indonesia harus menjalani
Indonesia dan Perjanjian Perdagangan Bebas 19

