web analytics

Suara Akademisi untuk Kesehatan Lahan Pertanian di Indonesia, dalam Mendukung Pembangunan Pertanian Berkelanjutan

19
Sep

Bogor, 12 September 2025- Salah satu tantangan utama dalam mencapai Swasembada Pangan adalah makin terbatasnya lahan pertanian dan penurunan kualitas lahan. Lahan pertanian terus berkurang karena terjadinya konversi yang disebabkan berbagai faktor. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian (2020) melaporkan, bahwa sepanjang periode 2015 – 2019 laju konversi lahan sawah menunjukkan tren fluktuatif cenderung menurun sebesar 5,68% per tahun.

Oleh karena itu, Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) bersama dengan Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas), didukung oleh Civilsamfund I Udvikling, menginisiasi diskusi terfokus dengan tema Pembangunan Pertanian Berkelanjutan “Optimalisasi Kesehatan Lahan Sawah dalam Mendukung Produksi Beras dan Pertanian Berkelanjutan di Indonesia”. Kegiatan ini dilakukan dengan mengundang beberapa pakar ilmu tanah dari Institut Pertanian Bogor dan Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI).

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari diskusi terbatas yang sudah dilakukan oleh KRKP dan Bappenas sebelumnya. Melihat dari indeks kesehatan tanah yang terus menurun di Indonesia, menjadi penting untuk merumuskan ulang logframe dan roadmap optimalisasi kesehatan lahan. Peningkatan pemahaman terkait tantangan dan permasalahan kesehatan lahan pertanian di Indonesia, serta terdokumentasikannya tantangan, permasalahan dan gagasan langkah dalam mensehatkan lahan pertanian di Indonesia, juga menjadi hasil yang dapat tergambarkan dari diskusi yang dilaksanakan pada 11 September 2025, kemarin.

Diskusi diawali dengan sambutan dari koordinator nasional KRKP, Said Abdullah. Said menyatakan, “dari pengamatan di lapangan, lahan sawah di 5 lokasi kabupaten di Jawa Timur dan Jawa Tengah, dalam program KRKP, terlihat bahwa kualitas kesehatan lahan sudah sangat menurun. Ini dapat terlihat dari baseline yang sudah dilakukan, penggunaan pupuk kimia setiap tahun cenderung naik. Tentu dalam jangka panjang, upaya pengurangan air dan penggunaan pupuk kimia, serta mendorong sustainable agriculture akan semakin sulit. Jikalau kondisi lahan pertanian sudah rusak.”

Bersinergi juga dengan statement dari Said, Noor Avianto dari Bappenas, juga menekankan bahwa “Terdapat 5 hal yang diperhatikan dalam kesehatan tanah/lahan; kecukupan nutrisi, sinkronisasi antar nutrisi, penyerapan nutrisi oleh tanaman dan daur ulang nutrisi, standarisasi kebutuhan input pertanian, pemetaan kesehatan tanah secara digital. Kami ingin masuk detail spesifik ke tanah. Seperti di India ada soil health card. Dari kartu ini nanti dapat menjadi rekomendasi pupuk, dan sebagainya.”

Pada sesi pemaparan materi, Dr. Ir. Lilik Tri Indriyati, M.Sc, selaku pakar ilmu tanah dan sumber daya lahan IPB University, menyampaikan bahwa, ada beberapa hal yang semakin menambah permasalahan pertanahan di Indonesia. “Pertama kondisi sosial ekonomi. Kedua, aplikasi pupuk dan pestisida berlebihan. Ketiga, pembakaran residu tanaman. Keempat, pengembangan lahan pertanian yang tidak tepat. Lalu, konversi lahan bervegetasi menjadi wilayah industri, perumahan, infrastruktur juga menjadi salah satu yang mengakibatkan degradasi kualitas lahan,” ujarnya.

Kehadiran Prof. Dr. Ir. Widodo, M.S., Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University makin menambah suasana hangat diskusi dengan sharing pengalaman panjangnya dalam dunia pertanian. Beliau menekankan, “Ternyata kata sehat dewasa ini sangat mahal harganya, termasuk kesehatan lahan/tanah. Apakah mendorong kesehatan tanah ini tidak bisa massal? Kalau komunitas, teknologi yang kita kembangkan yaitu biointensif, sudah khatam. Menurut saya, kalau tidak bisa penyadaran secara sukarela memang harus dipaksa, terbiasa, terasa, agar dapat terjadi perubahan karakter dan mindset dari petani. Sekarang, pemerintah membuat sistem, misalnya program dana kebijakan untuk sekolah lapang. Namun ini harus terstruktur, sistematis, masif.”

Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI) pun turut menyumbangkan pemikiran dalam diskusi terfokus ini. Dr. Bambang Hendro selaku perwakilan dari HITI memaparkan insight-nya. “Pendekatan yang diadopsi oleh HITI adalah univariate modeling geostatistik atau kriging, multivariate modeling. Kajian yang pernah dikerjakan HITI adalah hubungan kualitas intensitas dari penggunaan potasium terhadap pertanian bawang. Kami juga sudah memiliki machine learning, bahan organik di jawa ada yang masih tinggi namun lokasinya diluar wilayah APN. Sebetulnya kesehatan tanah anggaran besar dari anggaran optimalisasi lahan Kementerian Pertanian.” HITI pun sudah mengembangkan soil health dashboard, namun masih dalam tahap prototype.

Selain pakar ilmu tanah dari IPB University dan HITI, diskusi ini juga mengundang Dr. Suprehatin, M.AB., Dosen Fakultas Ekonomi Manajemen IPB University. Dari paparan yang disampaikan oleh Dr. Suprehatin, ada beberapa pandangan yang menambah erat keterkaitan dari kesehatan tanah dan kondisi ekonomi pertanian di Indonesia. “Profitabilitas instan dihadapkan dengan investasi jangka panjang dan masalah hak kepemilikan lahan, kegagalan pasar, ditambah tidak adanya mekanisme harga yang mendorong insentif bagi pemulia tanah.”

Ir. Nanang Hari, selaku dewan pembina KRKP juga ikut andil untuk memperkaya pandangan dalam diskusi. “Pembeda menjadi penting, penghargaan atas apa yang mereka lakukan. Pasar belum cukup menghargai apa yang dilakukan petani. Harga masih menjadi pertimbangan utama bagi kelas menengah,” ujar Nanang. Selaras dengan Nanang Hari, Ir. Wahono, Direktur Yayasan Nastari yang juga expert dari KRKP, ikut menyumbangkan gagasan. Menurutnya penyadaran yang juga penting bagi produsen pangan, dapat melalui pembelajaran ekonomi tanah. “Ini harus kita eksplorasi lagi, bagaimana untuk membuat uji kandungan biologi, biota tanah yang kaya c-organik secara cepat dan sederhana.”

Di akhir kegiatan, David Ardhian selaku moderator dari diskusi mem-wrap up diskusi dengan statement yang kuat. David menyampaikan bahwa Soil health ini berkaitan erat dengan aspek aspek hubungan dengan edukasi, publik dan policy maker. Kedua, Soil health erat kaitannya dengan riset, sudah banyak inovasi dalam konteks soil health, hanya bagaimana science communication, inovasi riset dapat connecting the dots dengan pihak yang terkait. Dan terakhir ini juga memiliki hubungan erat dengan praktik pertanian berkelanjutan yang kemudian terputus.

“Harus ada cara untuk menyentuh petani, bisa dengan sekolah lapang atau yang lain, karena disitulah praktek dapat diuji langsung oleh petani. Terakhir mengenai kebijakan, soal kelembagaan, insentif. Negara juga terus menerus kasih susbidi, harus ada cara lain, barangkali soil health ini keniscayaan. Pada tanggal 5 Desember tahun ini, dapat menjadi momen untuk menampilkan bahwa gerakan kominitas soil health ini ada dan bersuara,” pungkas David.