Jakarta, 14 Oktober 2025 — Kementerian PPN/Bappenas bersama dengan Proyek Low Carbon Rice (LCR) yang terdiri dari Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Preferred by Nature (PbN), dan Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (PERPADI) dengan dukungan dari SwitchAsia Grants programme – Uni Eropa telah menyelenggarakan Diseminasi Hasil Kajian tentang Pembangunan Pertanian Padi Berkelanjutan. Bertempat di Horison Ultima Menteng, Jakarta, kegiatan ini turut dihadiri oleh perwakilan Kementerian PPN/Bappenas yang menyampaikan pengantar mengenai pentingnya integrasi hasil kajian ke dalam perencanaan pembangunan nasional di Indonesia. Kegiatan ini menampilkan paparan hasil penelitian yang dilakukan oleh tim proyek LCR, Universitas Trilogi, dan IPB University dengan mengangkat dua kajian utama, yakni “Analisa Kelayakan Peluang Pengembangan Sustainable Rice Platform (SRP) menuju 1 Juta Ha Lahan di Indonesia” dan kajian “Potensi Beras Rendah Karbon sebagai Beras Khusus”. Diskusi menyoroti berbagai peluang dan tantangan dalam mengembangkan beras berkelanjutan rendah karbon, serta strategi kebijakan yang diperlukan agar selaras dengan arah pembangunan nasional.
Direktur Pangan dan Pertanian Bappenas, Jarot Idarto, menyampaikan bahwa kajian ini merupakan langkah strategis dalam mengintegrasikan hasil riset ke dalam perencanaan pembangunan nasional yang berorientasi pada pengurangan emisi gas rumah kaca dari sektor pertanian. Dengan meningkatnya kebutuhan pangan beras nasional yang mencapai puncak, inovasi pertanian berkelanjutan menjadi sangat penting. “Kita ingin Low Carbon Rice bisa (berperan dalam) harmonisasi pangan, mendorong pencapaian pengurangan emisi, kemudian juga mempromosikan praktik-praktik yang berkelanjutan dan mengurangi efek gas rumah kaca,” imbuh Angga Maulana Yusuf, tim pelaksana proyek LCR.
Dalam diseminasi ini, Dr. M. Rizal Taufikurahman dari Universitas Trilogi dan Dr. Widyastutik, S.E., M.Si. dari IPB University, dua peneliti yang mengkaji pengembangan beras SRP sebagai beras khusus, berkesempatan untuk memaparkan hasil kajian di lima lokasi pilot yang berada di Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Diketahui bahwa Indonesia memiliki tantangan yang besar dalam menghadapi kebutuhan pangan, terutama beras yang telah menjadi komoditas strategis saat ini. Isu emisi karbon dan praktik berkelanjutan mendorong dibutuhkannya pendekatan yang konstruktif di sektor pertanian, terutama dalam mentransformasi budidaya konvensional menjadi budidaya yang lebih ramah lingkungan.
“Adanya platform SRP hadir sebagai salah satu cara untuk meningkatkan tidak hanya produktivitas, tetapi juga efisiensi, karena platform ini sudah terbukti lebih efisien, lebih sustain, dan ramah terhadap lingkungan di beberapa negara,” ujar Rizal. Kajian ini juga menekankan pentingnya insentif bagi petani agar tetap termotivasi dalam menerapkan budidaya beras rendah karbon, serta perlunya kebijakan dan mekanisme sertifikasi yang realistis agar penerapan SRP dapat meluas.
Selain aspek teknis, kajian menemukan bahwa pengembangan beras rendah karbon tidak hanya berkontribusi pada pengurangan emisi, tetapi juga membuka peluang pasar dengan nilai tambah yang lebih tinggi atau lebih berpotensi menguntungkan petani. Forum ini menjadi wadah penting untuk mendapatkan masukan dari para pemangku kepentingan guna menyempurnakan strategi dan rekomendasi pengembangan padi berkelanjutan di Indonesia berdasarkan hasil kajian yang dipaparkan.
Diseminasi ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, akademisi, petani, dan pelaku pasar dalam mewujudkan pertanian padi yang berkelanjutan, tangguh terhadap perubahan iklim, dan berorientasi pada kesejahteraan petani. Harapannya, hasil kajian ini dapat menjadi dasar advokasi kebijakan nasional yang mendorong pengakuan dan penerapan standar budidaya berkelanjutan yang lebih luas di Indonesia.