web analytics

Festival Pangan Lokal “Beragam Pangan, Beragam Cerita”

21
Nov

Manggarai Barat, 8 November 2025 – Di tengah arus globalisasi dan sistem pangan yang semakin seragam, keberagaman pangan lokal mulai terpinggirkan oleh pola konsumsi modern yang berorientasi pada produk-produk industri. Nyatanya, setiap bahan pangan menyimpan cerita tentang cara hidup, nilai kebersamaan, serta hubungan manusia dengan lingkungan.

Manggarai Barat memiliki kekayaan pangan lokal yang melimpah, mulai dari hasil pertanian, perikanan, hingga olahan rumah tangga yang berbasis bahan-bahan alami. Namun, potensi ini belum sepenuhnya dikenal dan dihargai oleh masyarakat luas.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Konsorsium Pangan Bernas yang terdiri dari Yayasan Keanekaragaman Hayati (KEHATI), Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), dan Yayasan Komodo Indonesia Lestari (Yakines) melalui dukungan Program Urban Futures berinisiatif mengadakan Festival Pangan Lokal bersamaan dengan Komunitas Lino Tana Dite melalui tema “Beragam Pangan, Beragam Cerita”. Festival ini menjadi ruang antara orang muda, komunitas, pelaku usaha, dan masyarakat umum untuk merayakan keberagaman pangan lokal dan menggali kembali nilai-nilai budaya yang sudah ada sebelumnya.

Festival ini menghadirkan beragam kegiatan, mulai dari pameran produk pangan lokal hingga demonstrasi memasak putu berbahan dasar tepung sorgum sebagai contoh inovasi pangan yang lebih tahan terhadap perubahan iklim. Orang muda dari delapan desa dampingan turut berpartisipasi dengan membawa berbagai produk olahan seperti kopi, sayuran, sorgum, umbi-umbian, hingga sirup mangrove. Kehadiran orang muda di dalam festival memperlihatkan bahwa orang muda telah mengambil peran penting dalam menjaga sekaligus menciptakan peluang baru bagi pangan lokal.

Rangkaian acara diisi oleh talkshow yang diisi dengan narasumber yang telah lama menggiatkan pemanfaatan pangan lokal dan berbagi pengetahuan tentang pentingnya menjaga pangan berkelanjutan. Dalam sesi ini, para narasumber memberikan refleksi mengenai pentingnya kembali mengenali dan memanfaatkan pangan lokal.

Fitriatun Nisa, Orang Muda dari Desa Golo Bilas mengungkapkan pengalamannya selama mengikuti program Urban Futures ini membuka kembali kesadarannya terhadap pangan lokal. “ Ada banyak pangan lokal yang sudah jarang kita konsumsi. Setelah mengikuti program ini dan menjadi orang muda, hati saya tergerak untuk kembali memakan pangan lokal seperti dojang yang selama ini mulai terlupakan,” ungkapnya.

Narasumber lainnya, Elizabeth Yani Tararubi, Owner Dapur Tara menekankan bahwa keberlanjutan pangan harus berangkat dari akar budaya. Dimana masyarakat sesungguhnya sudah memiliki sumber daya berupa benih dan pengetahuan turun-temurun, sehingga ketergantungan pada pangan dari luar seharusnya dapat diminimalisir. “ Benih yang dulu membuat nenek moyang kita hidup, harusnya bisa terus kita jaga. Kalau leluhur kita bisa sehat dengan pangan lokal, kenapa kita tidak lagi memasak pangan lokal yang sama? mengapa kita tidak menjaga tanah atau hutan yang kita miliki sekarang?” tuturnya.

Sementara itu, Herry Kabut, Jurnalis Media Flores menambahkan bahwa inisiatif masyarakat dalam membudidayakan pangan lokal sebenarnya sudah ada sejak lama. Herry menilai bahwa berbagai upaya masyarakat, baik secara individu maupun kelompok, masih sering tidak terdengar karena belum terartikulasi dengan baik. “ Ada gap antara kebijakan pemerintah dengan masyarakat, sehingga inisiatif itu tidak selalu menemukan jalur koordinasi yang tepat,” jelasnya.

Pemerintah daerah turut menunjukan komitmen dalam mendorong penggunaan pangan lokal. Fatinci Reynilda, Kepala Dinas Ketahan Pangan dan Perikanan Kabupaten Manggarai Barat menjelaskan bahwa pemerintah tengah menyiapkan tujuh rancangan Peraturan Gubernur terkait pangan lokal, termasuk kebijakan penggunaan 60 persen bahan pangan lokal dalam aktivitas pemerintah, hotel, restoran, dan rapat resmi pemerintahan. “ Ini bisa menjadi peluang besar bagi pelaku usaha dan orang muda untuk meningkatkan produksi, karena pasarnya ada di daerah kita sendiri,” ungkapnya.

Dokumentasi foto: Konsorsium Pangan Bernas

Momentum festival pangan lokal ini menjadi semakin istimewa karena sekaligus menjadi momen penting dalam peresmian platform media sosial berbasis website dari Multi Stakeholder Forum (MSF), yaitu MSmart. Platform ini dikembangkan oleh pemerintah Kabupaten Manggarai Barat sebagai e-commerce jual beli yang memungkinkan orang muda dan pelaku usaha lokal memasarkan berbagai produk hasil olahan produksi mereka. MSmart diharapkan menjadi jembatan baru membuka peluang ekonomi.

Dalam peresmian MSmart tersebut, Sekretaris Daerah menyampaikan bahwa inovasi seperti MSmart merupakan langkah konkret pemerintah dalam memastikan pembangunan yang lebih inklusif. “ Platform ini menjadi media yang sangat penting yang memungkinkan mendorong orang muda untuk mengembangkan hasil produksinya, serta menjadi pendorong agar potensi pangan lokal menjadi bagian dari keseharian kita,” ucapnya.

Antonius Babo Wea, Manajer Program UF dari Yakines, menilai bahwa festival ini dibuat untuk membangkitkan kembali kebanggan dan apresiasi masyarakat terhadap identitas dan kearifan lokal dalam sistem pangan. “ Kami ingin festival ini menjadi ruang untuk menguatkan narasi kedaulatan pangan melalui cerita, praktik baik, dan inovasi komunitas lokal. Selain itu, kami berharap bisa mendorong orang muda untuk terlibat aktif dalam pelestarian dan inovasi pangan lokal,” ujarnya.

Kegiatan ini bukan hanya merayakan keragaman pangan lokal, tetapi  juga diharapkan meningkatnya kesadaran dan kebanggan masyarakat terhadap produk pangan lokal. Festival ini juga diharapkan menjadi langkah awal terbentuknya jejaring antara orang muda, pelaku usaha, lembaga, dan komunitas yang selama ini berkontribusi dalam isu pangan lokal. Dengan adanya kolaborasi yang berkelanjutan, Manggarai Barat dapat terus mewujudkan ekosistem pangan lokal yang berkelanjutan.