web analytics

Boyolali Terapkan Praktik Budidaya Beras Berkelanjutan

08
May

Manggis, Boyolali 6 Mei 2026 – Keprihatinan terhadap minimnya dampak ekonomi yang dirasakan oleh para petani sebagai penyangga tiang utama dalam sistem pangan nasional, menjadi landasan awal untuk menginisiasi pelatihan sekolah lapang, demoplot Sustainable Rice Platform (SRP), dan penguatan kelembagaan di Kabupaten Boyolali serta 4 Kabupaten lain, yakni, Sragen dan Klaten di Jawa Tengah, Madiun dan Ngawi di Jawa Timur.

Kegiatan sekolah lapang, demoplot dan sesi sharing yang juga dilakukan di 4 Kabupaten lainnya hasil kerjasama antar-pihak, kembali sukses dilaksanakan, kali ini di Kabupaten Boyolali. Kegiatan serupa telah sukses dilaksanakan di Sragen pada bulan April 2026, coba direplikasi di Boyolali.

Terlaksananya kegiatan ini tidak terlepas dari kolaborasi Program Beras Tangguh (Ricesilience) yang dilaksanakan oleh Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Rikolto Indonesia dan Preferred by Nature, bersama dengan masyarakat tani Kabupaten Boyolali tepatnya terletak di Desa Manggis.

Pelatihan sekolah lapang dan sesi berbagi pengalaman antar petani diikuti secara antusias oleh para peserta yang berjumlah 47 orang. Tidak hanya masyarakat Desa Manggis, kegiatan ini juga dihadiri oleh kepala desa, perwakilan pengurus Gapoktan, Poktan dan petugas penyuluh lapang (PPL) setempat.

Seperti di Kabupaten lain, kegiatan pelatihan diawali dengan pengamatan yang dilakukan di lahan demoplot milik dari Joko, Petani dari Desa Manggis. Peserta mencatat hasil pengamatan secara mendetil dan sukarela yang dipandu oleh Rustamaji, tenaga ahli dari Rikolto.

Dalam penjelasannya Rustamaji menambahkan bahwa, “saat ini kegiatan sudah sampai ke pelatihan ketiga kami melakukan pengamatan demoplot dan sekolah lapang, sejauh ini kondisi tanaman masih baik dan musuh alami dari hama masih terlihat seperti kumbang, katak dan belalang. ini sudah fase generatif perlu perhatian khusus dan masa krusial masuk masa pembungaan,” ujarnya.

“Keberadaan pupuk organik cair (POC) dapat membantu mengurangi resiko hama dan penyakit,” tambah Rustamaji.

Kepala Desa Manggis, Galih Hadi Saputra, menyebutkan komitmen dukungannya untuk kegiatan pelatihan sekolah lapang dan juga sesi berbagi pengalaman yang sedang dijalankan. “Semoga dengan adanya kegiatan ini pertanian desa manggis semakin maju dan hasil panen bisa bagus. Dan bapak ibu petani bisa mendapatkan pelajaran baru yang bisa digunakan untuk pertaniannya,” harap Galih.

Dalam sesi berbagi pengalaman, Yuwono, selaku perwakilan PPL menerangkan kepada peserta terkait pentingnya penerapan pupuk organik. “POC itu masa efektif aplikasi 7-10 hari, beda dengan kimia lebih lama. Dosis kocor dan semprot berbeda. POC bukan hanya pupuk tapi bisa juga jadi obat hama. Jajar legowo jumlah tanaman meningkat 20% dari sistem tegel.”

Ratih Rahmawati selaku Program Manager dari Rikolto, menekankan terkait resiko kandungan logam berat pada lahan. “Logam berat terlalu tinggi maka potensi kerdil lebih tinggi. Ini terlihat di 5 Kabupaten yang kami dampingi. Desa Tanjungsari sempat heboh karena dikunjungi Jokowi dan digempur kimia untuk menggenjot produksi.”

Ratih menambahkan, “Pupuk kompos menjadi cara yang harus dilakukan untuk memperbaiki tanah. Seleksi benih bisa menggunakan air garam dan telur untuk memilih benih yang baik dan berkualitas dan meminimalisir penyakit tanaman.”

Fasilitator lokal dari KRKP, Siskaryanta, menyebutkan bahwa kegiatan berbagi pengalaman dan pembelajaran bersama terkait pertanian berkelanjutan ini menjadi hal yang fundamental bagi sistem pangan nasional dan juga dapat diterapkan di daerah-daerah lainnya.

“Persiapan kelembagaan menjadi fondasi dasar yang penting. Dari yang sebelumnya tidak aktif harus menjadi aktif dengan peningkatan kebermanfaatan unit usaha dan budidaya yang lebih berkelanjutan. Gotong royong menjadi hal yang krusial di dalam kelompok untuk bertransisi ke arah berkelanjutan,” tambahnya.

Kegiatan ini juga menjadi wadah untuk meluapkan keluh kesah dari kawan-kawan produsen pangan. Slamet, peserta pelatihan dari Desa Ketaon menyampaikan, “Lahan saya itu setiap diairi cepat asat. Ph nya pun hanya di angka 5. Tanah keras dan banyak rumput yang timbul. Saat ini saya coba pakai pupuk komsa.Saya juga ada pertanyaan untuk pemerintah, Kenapa bibit dikelola swasta bukan pemerintah? Banyak kritik dari petani, bibit bantuan itu kurang baik.”

Kesehatan tanah memang menjadi hal yang krusial dalam praktik budidaya pertanian sawah. Pemahaman petani atas tanahnya sendiri lebih penting dibanding menggunakan anjuran jumlah yang sudah ditetapkan oleh industri. Ini ditegaskan oleh testimoni Juju, perempuan petani dari Desa Tanjungsari yang sudah mempraktikan SRP pada lahan garapannya.

Juju menjelaskan, “di Tanjungsari itu praktik budidaya berkelanjutan dengan jajar legowo. Hasilnya terdapat lebih banyak anakan, airnya juga tidak memerlukan banyak. Lebih irit pupuk namun hasil panen lebih banyak.”

Untuk mendukung pemahaman yang lebih mendalam dan prediksi cuaca harian yang lebih presisi. Program Beras Tangguh mengusahakan akses terhadap teknologi  yang relevan agar peningkatan kapasitas kelembagaan petani semakin baik.

Narahito (KRKP), Program Officer dari Beras Tangguh, menerangkan bahwa ada potensi kerjasama teknologi berupa automatic weather station (AWS) dengan dukungan Program Donasi Berbagi Cahaya, bagi kelompok tani yang berkomitmen, aktif serta sudah melibatkan anak muda secara inklusif dalam struktur organisasi kelompok tani. “AWS sendiri dapat memperkirakan cuaca secara presisi jadi harapannya bisa membantu bapak/ibu untuk menentukan waktu tandur, mupuk atau nyemprot agar lebih presisi, efisien, dan mengurangi modal produksi yang dikeluarkan,” pungkas Narahito.