web analytics

Komitmen Pertanian Berkelanjutan (Sustainable Rice Platform) di Desa Sukorejo, Sragen

06
May

Sragen, 15 April 2025.

Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Rikolto Indonesia dan Preferred by Nature, bersama dengan masyarakat tani Kabupaten Sragen, telah sukses menyelenggarakan kegiatan pelatihan sekolah lapang, demoplot serta sesi sharing dan diskusi terkait pertanian berkelanjutan di Desa Sukorejo, Sragen. Kegiatan ini juga dihadiri oleh perwakilan pengurus Gapoktan, Poktan dan petugas penyuluh lapang (PPL) Kabupaten Sragen.

Pelatihan sekolah lapang, demoplot dan penguatan kelembagaan ini dilandaskan oleh keprihatinan mendalam terhadap minimnya dampak ekonomi yang dirasakan oleh para petani, khususnya komoditas beras, yang semakin tertekan terhadap ketergantungan pada pupuk maupun racun sintesis yang dapat semakin merusak kesehatan ekosistem pertanian. Selain itu posisi kelembagaan tani yang makin melemah dan bergantung pada bantuan eksternal juga menjadi hal yang miris.

Sesi pertama dilakukan dalam bentuk sekolah lapang yang dipandu oleh tenaga ahli Rikolto, Danang Tri Wibowo. Peserta pelatihan sebanyak 41 orang berjalan beriringan menuju lokasi demoplot yang tidak jauh dari lokasi sekretariat Poktan Sri Makmur, Desa Sukorejo. Desa Sukorejo sendiri memang sudah 13 tahun mempraktikan budidaya organik dan memperhatikan dampak pertanian secara lebih berkelanjutan.

Dalam paparannya di demoplot, Danang menjelaskan betapa pentingnya dalam memperhatikan dan mendata kondisi lahan pertanian secara seksama. Danang juga menerangkan terkait pentingnya pengukuran kadar pH tanah sebagai tahap terpenting untuk mengetahui kondisi lahan garapan. Terdapat perwakilan perempuan tani yang sukarela mencatat pengukuran tinggi tanaman, jumlah anakan, hama sampai pada predator alami hama pada lahan pertanian.

Kemudian pelatihan dilanjutkan pada sesi sharing dan diskusi yang berjalan dengan hangat ditemani oleh snack dan secangkir kopi panas yang sudah disediakan oleh tuan rumah. Dalam sesi sharing sebagian besar peserta yang umumnya berasal dari desa lain mengaku masih menggunakan pupuk kimia bahkan hingga 600-700 kg/hektar di lahannya masing-masing.

Ratih Rahmawati, Program Manajer dari Rikolto Indonesia, menerangkan kepada peserta bahwa sejatinya tanaman padi hanya dapat menyerap maksimal di 300-400 kg pupuk kimia per hektarnya. Ini menjadi hal yang mubazir ketika sisa 200-300 kg tidak dapat diserap oleh tanaman untuk tumbuh kembang. “Lebih baik digunakan untuk kebutuhan lain yang juga tak kalah penting,” imbuhnya.

Senada dengan Rikolto, Stevanus Wangsit dari KRKP, dalam sesi penghubungan penguatan penguatan kelembagaan dan pertanian berkelanjutan, juga menegaskan tentang pentingnya petani untuk mengenal dan memahami kebutuhan lahannya sendiri. “Setelah zaman industrialisasi memang terdapat perubahan sosiologis yang didorong untuk menyeragamkan kebutuhan lahan demi kepentingan industri besar yang semakin menjauhkan hubungan antara petani dan lahan garapan,” ujarnya.

Kegiatan pelatihan ini dihadiri oleh perwakilan perempuan petani muda yaitu Fika dari Desa Sukorejo, yang mengaku baru terjun di dalam dunia pertanian 3 musim tanam terakhir. Walaupun ia melihat betapa sulitnya keadaan petani komoditas beras dengan tekanan harga eceran tertinggi dan modal produksi yang tinggi namun tidak menyurutkan keinginannya untuk tetap bertani. “Untuk mengakali lahan pertanian yang minim dan modal produksi tinggi, saya mulai mengurangi penggunaan pupuk kimia dengan hanya menggunakan 30 kg per 1000m2 dan sisanya menggunakan pupuk organik.”

Begitupun Sriyanto atau yang akrab disapa Sri, Ketua Poktan Sri Makmur. Beliau menerangkan bahwa sejarah Desa Sukorejo menjadi desa organik pun diawali dengan sekolah lapang dan demoplot seperti yang dilakukan saat ini bersama KRKP dan Rikolto. Sri menambahkan, memang perubahan praktik budidaya di Sukorejo tidak terlepas dari dukungan struktur daerah Kabupaten Sragen yang sejak 2013 hingga kini.

Ali, pewakilan dari PPL, menyatakan bahwa kegiatan sekolah lapang dan penguatan kelembagaan yang saat ini dikerjasamakan harus diperkuat dan dilanjutkan di desa-desa lainnya. “Pertanian berkelanjutan menggunakan input secara mudah dan hemat biaya namun disisi lain dapat meningkatkan produksi yang memang sudah terbukti”. “Tidak hanya efisien input produksi namun juga efisien air yang tentunya baik bagi keberlanjutan ekosistem dan lingkungan secara luas”, pungkasnya.

Kegiatan ini juga dapat menjadi wadah bagi produsen pangan untuk saling berbagi terkait permasalahan seputar pertanian, pun juga menjadi ajang pembelajaran bersama agar pertanian semakin maju. Harapannya produsen pangan dapat saling berkolaborasi bukan berkompetisi untuk mendapatkan hasil yang terbaik.

Apa yang sudah dilakukan di Sukorejo merupakan hal yang baik untuk direplikasi bagi kemajuan pertanian di Indonesia. Komitmen nyata, ikhtiar dan percaya bahwa apabila kita tidak merusak bumi semata-mata demi pencapaian produksi pertanian yang tinggi, maka bumi akan menjaga keberlangsungan pertanian yang lebih menjanjikan di masa depan, demi generasi penerus kita.

Memang sejatinya program/proyek pertanian baik skala nasional maupun daerah tidak harus selalu berupa pengadaan sarana produksi pertanian seperti pompanisasi dan subsidi pupuk kimia. Masih banyak hal-hal fundamental seperti pemahaman mendalam terhadap lahan garapan dan penguatan kelembagaan tani yang semakin hari semakin lesu. Sukorejo dapat menjadi contoh, kelembagaan tani yang berdaulat dapat membangun harapan pada masa depan pertanian dan diwujudkan melalui praktik pertanian yang lebih berkelanjutan.