web analytics

Bedah Buku & Film “Merawat Harapan di Kampung Halaman: Suara Local Champion untuk Iklim dan Pangan” Hadir di Bogor

04
Sep

Bogor, 28 Agustus 2025 — Sekolah Vokasi IPB University bersama Koalisi Pangan Baik dan RRI Bogor menggelar Bedah Buku & Film “Merawat Harapan di Kampung Halaman: Suara Local Champion untuk Iklim dan Pangan”pada pukul 08.30–12.00 WIB di Aula RRI Bogor. Kegiatan luring ini sekaligus mempertemukan pegiat komunitas, akademisi, pemerintah, dan media untuk belajar dari aksi-aksi lokal dalam memperkuat ketahanan pangan di tengah krisis iklim.

Membuka acara, Kepala RRI Bogor Nurdiana menegaskan bahwa perubahan iklim bukan isu masa depan, melainkan dampak yang sudah nyata—khususnya pada pangan. Ia melihat generasi muda kian peduli pada isu ketahanan pangan, sehingga ruang-ruang diskusi kolaboratif seperti ini penting diperluas. Dari jejaring masyarakat sipil, Arti Indallah (Aliansi VCA) menggarisbawahi kuatnya kerja kolaborasi lintas organisasi untuk mendorong aksi iklim berbasis lokal. Ia memperkenalkan pendekatan “articism”—menggabungkan seni dan budaya sebagai medium advokasi—yang terbukti efektif menghidupkan partisipasi publik dan menyuarakan solusi komunitas.

Sesi inti menghadirkan dua narasumber. Hengky Ola Sura (Koalisi Pangan Baik) memaparkan bahwa isu pangan dan iklim di NTT masih minim diangkat media lokal, sehingga buku dan film ini menjadi ruang dokumentasi dan belajar bersama. Menurutnya, “local champion” adalah jembatan yang menghubungkan pengetahuan lapangan, pengalaman warga, dan advokasi yang lebih luas. Dari desa, Maksimilian Kolbe Labutpetani muda dari Manggarai—berbagi praktik hortikultura organik di lahan terbatas. Ia menuturkan tantangan budaya penggunaan input kimia, tetapi kerja kolektif, pengelolaan air, serta keberanian mencoba membuat warga mulai merasakan manfaat pupuk dan pestisida organik serta diversifikasi tanaman.

Pada sesi penanggap, Rinna Syawal (Direktur Penganekaragaman Konsumsi Pangan, Badan Pangan Nasional) menekankan bahwa penganekaragaman pangan lokal tak boleh berhenti pada karbohidrat. Ia menyoroti peran sentral perempuan dalam dapur rumah tangga dan menyerukan rencana aksi konkret agar plasma nutfah dan budaya pangan tidak punah—termasuk muatan lokal pendidikan dan penguatan konsumsi pangan wilayah. Dari kampus, Prof. Dr. Damayanti Buchori, M.Sc. (Direktur CTSS IPB University) menjelaskan pentingnya pendekatan transdisiplinerilmu formal perlu dipadukan dengan pengetahuan lokal agar melahirkan petani muda, kelestarian biodiversitas, dan kedaulatan pangan. “Perguruan tinggi, komunitas, pemerintah, dan NGO harus bergerak bersama,” ujarnya, menggarisbawahi kolaborasi lintas aktor.

Menutup rangkaian penanggap, David Ardhiam, M.Si. (Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan) menekankan pelajaran dari bawahkeberanian dan imajinasi komunitas mampu memantik kemandirian pangan dan memperkuat daya lenting terhadap iklim. Ia mengingatkan agar ruang gerak warga (civic space) dijaga, sehingga gerakan komunitas tumbuh tanpa gangguandan kedaulatan pangan terwujud sebagai praktik, bukan slogan. Acara dipandu Widya Hasian S., M.Si. (Dosen Sekolah Vokasi IPB, Program Studi Teknologi Produksi dan Pengembangan Masyarakat Pertanian). Kegiatan ini terselenggara berkat dukungan jejaring lembaga—antara lain Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial, Aliansi VCA, Yayasan KEHATI, KRKP, YASPENSEL, IPB University, dan RRI Bogor—seraya mengajak publik mengakui, mendukung, dan mereplikasi inisiatif local champion sebagai tulang punggung ketahanan pangan di berbagai daerah.