web analytics

VIRUS CORONA DAN KEDAULATAN PANGAN

02
Apr

VIRUS CORONA DAN KEDAULATAN PANGAN

Proses angkut hasil panen raya padi di Desa Gabus Wetan Indramayu (Fahri anindita)

Merebaknya virus corona membawa dunia dalam krisis kesehatan global. Pandemi virus berdampak pada semua sektor kehidupan, semua orang merasa terancam, ekonomi mandeg dan pembangunan tersendat. Dalam situasi ketidakpastian, salah satu penopang penting adalah pangan.  Pangan adalah kebutuhan dasar yang tidak bisa ditunda.

Pengalaman berbagai krisis, sistem pangan menjadi faktor penentu. Stok menipis, harga melonjak adalah fenomena yang memungkinkan terjadinya chaos pada masa krisis. Kasus di India adalah bukti bahwa penutupan wilayah (lockdown) untuk mencegah penyebaran virus tanpa persiapan sistem pangan, mengakibatkan kekacauan sosial yang sulit dikendalikan. 

Bagaimana dengan Indonesia? Setelah inspeksi mendadak ke gudang milik Bulog tanggal 19 Maret 2019, Presiden RI Joko Widodo memastikan bahwa stok pangan cukup sehingga masyarakat tidak perlu panik di tengah pandemi virus corona. Menurut Kementerian Pertanian saat ini tersedia stok beras sebesar 3,5 juta ton. Disamping itu, April-Mei 2020 merupakan masa panen di daerah penghasil padi di Pulau Jawa. Stok produksi beras dipastikan melimpah, cukup untuk menghadapi situasi krisis dan masa Lebaran.

Pemerintah secara ketat telah memantau ketersediaan 11 bahan pangan pokok, diantaranya adalah beras, jagung, bawang merah, bawang putih dan cabai besar merah. Disamping itu juga cabai rawit, daging sapi, daging ayam, telur ayam, gula pasir dan minyak goreng. Untuk bahan pangan yang sebagian besar masih impor, seperti bawang putih, pemerintah telah melonggarkan aturan seperti percepatan ijin dan penurunan bea masuk untuk memastikan ketersediaan di pasaran.

Langkah yang dilakukan pemerintah patut diapresiasi, memastikan ketersediaan pangan pada masa krisis. Dalam konteks sistem pangan, ketersediaan pangan merupakan hal penting namun bukan satu-satunya. Disamping itu penting diperhatikan persoalan akses, distribusi dan kualitas pangan. Situasi krisis sering timbul hal-hal yang tidak terduga, turbulensi bukan hal tidak mungkin terjadi ditengah gejolak di era disrupsi seperti saat ini.

Disamping ketersediaan pangan, apa yang perlu mendapat perhatian? Pertama soal akses pangan. Sebelum krisis virus corona terjadi, sebagian besar masyarakat miskin menghabiskan energi dan waktu mereka hanya sekedar bisa makan. Terutama masyarakat miskin di perkotaan, dimana mereka bekerja di sektor informal. Pendapatan mereka sebagian besar habis dibelanjakan untuk membeli pangan pokok. Kebijakan pembatasan sosial dalam skala luas membuat mereka kehilangan pendapatan secara drastis, yang artinya mengancam diri dan keluarga mereka kekurangan pangan. Sebuah bencana yang tidak kalah mengerikan. Memastikan akses pangan bagi kaum miskin adalah kewajiban negara.

Kedua adalah persoalan distribusi pangan. Pangan tidak tersedia otomatis di meja makan kita, namun melalui rantai distribusi dari produsen ke konsumen.  Berbeda dengan pekerja kantoran yang bisa kerja di rumah, tidak demikian produksi pangan yang tidak bisa dihasilkan tanpa kerja fisik. Bisakah dibayangkan padi bisa tumbuh sendiri dan dipanen tanpa kerja fisik petani, produk pertanian berjalan sendiri ke pasar tanpa distibutor pangan, atau tersedia begitu saja di pasar dan warung-warung tanpa kerja fisik? Dengan demikian memastikan rantai distribusi pangan dari petani, pasar dan konsumen adalah hal penting pada masa krisis ini. Termasuk didalamnya perhatian terhadap para pekerja fisik, penjaga kedaulatan pangan pada masa sulit ini.

Ketiga adalah kualitas pangan. Merebaknya krisis corona ini membuka mata kita semua, bahwa kesehatan adalah hal paling berharga. Berbagai himbauan dan kampanye telah didengungkan agar masyarakat makan makanan bergizi akar meningkatkan kekebalan tubuh dari serangan virus corona. Pangan bergizi adalah sebuah kemewahan bagi kaum miskin dan rentan, bisa makan saja sudah untung apalagi makanan bergizi.

Dengan demikian kuantitas tidak cukup, pangan harus berkualitas termasuk kecukupan kandungan gizi dalam makanan sehari-hari. Distribusi sembako penting dilakukan, namun komplemen pangan bergizi adalah mutlak diperlukan untuk kekebalan tubuh masyarakat rentan, terutama yang berusia lanjut.

Perhatian terhadap gizi pangan saat ini adalah keharusan. Memperkuat sistem pangan saat ini, dengan memastikan bagaimana penyediaan pangan yang bergizi berkontribusi untuk  mencegah dampak virus corona, memperkuat imunitas masyarakat, sekaligus fondasi penting untuk kekuatan sistem pangan pasca krisis.

Apakah ancaman sesunguhnya pada masa krisis ini? Pertama adalah spekulasi harga pangan. Dalam setiap krisis selalu ada penunggang gelap yang mencari keuntungan di tengah masa sulit. Penimbunan pangan dan rente ekonomi yang cari untung dari impor pangan adalah musuh bersama. Melambungnya harga pangan bisa menimbulkan kekacauan, menekan akses pangan rakyat, dan memaksa rakyat membeli pangan yang murah, mengesampingkan aspek kualitas nutrisi yang saat ini sangat penting.

Kedua adalah terganggunya produksi pangan.  Saat ini Indonesia “beruntung” bahwa krisis terjadi di tengah stok pangan tersedia cukup menjelang panen raya. Namun, perlu diantisipasi adalah produksi musim berikutnya yang bersamaan dengan musim kemarau. Perlu perhatian terhadap bagaimana skenario produksi pangan di tengah pandemi kedepan.

Dampak sebaran virus ke perdesaan, membuat pertanian adalah sektor yang rentan. Hal ini berkaitan dengan profile petani yang menua, dan minimnya sarana prasarana kesehatan di desa, serta sebagian besar mengandalkan kerja fisik untuk memperoleh pendapatan. Kesehatan petani dan buruh tani menjadi faktor penting untuk menyelamatkan produksi pangan kita kedepan.

Ketiga adalah terganggunya distribusi pangan.  Pembatasan fisik akan memiliki dampak pada ongkos distribusi, antar wilayah, antar provinsi, dan bahkan antar negara. Tidak bisa lagi mengandalkan impor, pada saat semua negara sedang re-start kegiatan ekonomi dan memprioritaskan produksi untuk menyelamatkan pangan dalam negeri masing-masing. 

Untuk itu menghadapi masa krisis tidak bisa terlarut dalam upaya jangka pendek, namun secara simultan mempersiapkan langkah jangka panjang. Intervensi krisis mutlak diperlukan, namun desain perubahan sosial ekonomi perlu dirancang sejak dini. Persoalan kompleksitas hanya bisa diselesaikan dengan integrasi pengetahuan dan pengalaman para pihak, melalui aksi-aksi kolaboratif untuk keluar dari belenggu sektoral selama ini.

Apa upaya yang bisa dilakukan? Beberapa potensi sumberdaya bisa dimanfaatkan untuk desain sistem pangan kedepan pada masa krisis dan pasca krisis. Pertama memperkuat akses pangan kaum miskin dan rentan di perkotaan. Pemerintah perlu menggerakkan warung-warung makanan, memberikan stimulus untuk menjadikan mereka outlet bagi akses pangan kaum miskin. Saat ini diperkirakan ada 40.000 warteg di Jakarta, belum termasuk warung-warung makan lain pada setiap RT di Jakarta. Mereka yang dilarang mudik dan ekonomi terus hidup perlu digerakkan dengan dukungan pemerintah.

Kedua, mengidentifikasi dan memanfatkan lahan-lahan potensial untuk produksi pertanian terutama dalam kaitan menyediakan pangan bergizi seperti pangan pokok, sayuran, buah dan tanaman obat-obatan. Salah satu yang potensial adalah kelompok-kelompok tani perhutanan sosial yang sampai saat ini mencapai 4 juta hektar. Insentif bisa diberikan dengan mengintegrasikan program padat karya desa dengan perhutanan sosial, memastikan ekonomi perdesaan terus bergerak untuk menyediakan pangan bergizi kedepan.

Ketiga, memperkuat pr­­ogram pengentasan kemiskinan seperti program keluarga harapan, dengan memasukkan aspek penyediaan makanan bergizi untuk kaum miskin dan rentan terutama yang berusia lanjut. Tidak cukup hanya memberikan meningkatkan nominal yang diterima kaum miskin, namun memastikan kecukupan gizi mereka adalah hal yang penting selama krisis kesehatan seperti sekarang ini. Pemanfaatan pekarangan dengan aneka ragam pertanian skala rumah tangga perdesaan menjadi salah satu alternatif yang perlu dikembangkan secara luas.

Keempat, mendukung produksi pertanian sehat. Saat ini telah berkembang berbagai inisiatif untuk produksi pertanian organik, berbagai start-up penyediaan produk pertanian sehat dan kader-kader petani organik baik di kota maupun desa. Potensi ini perlu digerakkan dengan mendorong perluasan produksi dan pemasaran, mewujudkan pangan organik untuk semua. Pada saat ini pangan organik dan pangan sehat adalah kebutuhan semua orang, tidak hanya eksklusif kalangan menengah keatas namun terutama untuk masyarakat miskin dan rentan.

Kelima, pengendalian harga, pasar dan distribusi pangan. Pemerintah perlu memastikan bahwa pangan tersedia dalam kuantitas dan kualitas gizinya, terjangkau dan terdistribusi kepada konsumen terutama konsumen miskin dan kelompok rentan. Tata kelola pangan perlu dibangun dengan aturan main yang jelas, menghidarkan dari para spekulan dan rente ekonomi yang menyengsarakan rakyat pada masa krisis.

Pada masa krisis kedaulatan pangan dalam ancaman, namun juga menyediakan kesempatan untuk membenahi sistem pangan kedepan. Krisis ini memberi pelajaran untuk mengubah konsepsi mengenai akses pangan, tidak hanya kuantitas pangan namun juga kualitas nutrisi, agar masyarakat hidup lebih sehat dan berkualitas. Krisis yang dipicu virus corona ini membuka mata kita, bahwa persoalan pangan bukan sekedar soal ketersediaan di pasaran, namun akses masyarakat terhadap pangan bergizi untuk bertahan hidup, dan memperbaiki generasi kita kedepan.

Bogor, 1 April 2020

David Ardhian

Leave a Comment

For security, use of Google's reCAPTCHA service is required which is subject to the Google Privacy Policy and Terms of Use.

I agree to these terms.