web analytics

Urban Futures: Orang Muda Manggarai Barat Belajar Pola Konsumsi Pangan dan Gizi Berbasis Pangan Lokal

22
Apr

Labuan Bajo, Manggarai Barat. Kesadaran akan pentingnya pola konsumsi sehat dan bergizi seimbang saat ini mulai tumbuh di kalangan orang muda Manggarai Barat. Hal ini terlihat dari antusiasme 30 orang muda yang mengikuti Pelatihan Pola Konsumsi Pangan dan Gizi pada 26-27 Februari 2025. Pelatihan ini diselenggarakan oleh Konsorsium Pangan Bernas dalam rangkaian program Urban Futures di Manggarai Barat.

Urban Futures (UF) merupakan program global berdurasi 5 tahun (2023–2027) yang memadukan sistem pangan perkotaan, kesejahteraan orang muda, dan aksi iklim. Di Indonesia, program ini dikelola oleh Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial. Program Urban Futures di Manggarai Barat diimplementasikan oleh beberapa organisasi salah satunya Konsorsium Pangan Bernas yang beranggotakan Yayasan Keanekaragaman Hayati (KEHATI), Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), dan Yayasan Komodo Indonesia Lestari (YAKINES). Program ini mendorong agar masyarakat terutama orang muda dapat mengambil tanggung jawab dalam sistem pangan, menyuarakan prioritas, dan menumbuhkan serta meminta pangan yang sehat dan berkelanjutan.

Pelatihan ini dilakukan dengan pendekatan partisipatif sehingga semua terlibat secara aktif selama kegiatan. Sejalan dengan tujuan program, pelatihan ini juga didesain dengan memanfaatkan sumber daya pangan lokal sebagai bahan pembelajaran. Pada kesempatan itu para peserta diajak memahami materi lebih dalam oleh Ahmad Arif, seorang jurnalis sekaligus penggiat pangan lokal.

Pelatihan ini dilakukan sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk mendukung transformasi sistem pangan yang adil, inklusif, dan berkelanjutan. Data Dinas Kesehatan menunjukkan penurunan angka stunting di Manggarai Barat dari 15,9% (3.675 anak) pada Agustus 2022 menjadi 9,0% (2.130 anak) pada Februari 2023. Meskipun menunjukkan tren positif, edukasi gizi masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu disasar. Khususnya bagi generasi muda yang merupakan calon pemimpin masa depan. Dengan mendorong penggunaan hasil produksi lokal berbasis pertanian ekologis, pelatihan ini menjadi salah satu upaya memperkuat ketahanan pangan. Mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah, dan membuka peluang ekonomi lokal berbasis kewirausahaan hijau.

Hari pertama pelatihan diisi dengan materi mengenai pentingnya mengenal kandungan gizi makanan harian. Selain itu peserta juga diajak untuk menyusun menu sehat keluarga dari pangan lokal. Di akhir sesi peserta melakukan pemetaan keberagaman pangan lokal di wilayah mereka. Hasil identifikasi pangan lokal tersebut diunggah dalam website pangan lokal www.nusantarafoodbiodiversity.org.

Ahmad Arif, narasumber kegiatan mengatakan bahwa Indonesia memiliki pangan yang beragam sehingga kita harus berpikir bahwa kenyang tidak selalu dengan nasi. Kita perlu mengembangkan pola konsumsi yang beragam dan tidak terbatas pada jenis pangan tertentu, misalnya nasi.

“Jadi mulailah mengonsumsi pangan lokal dari diri atau keluarga sendiri. Dengan begitu kita akan lebih tahan pangan karena tidak tergantung pada pangan tertentu” ungkap Ahmad Arif.

Para peserta juga diajak untuk menghitung pengeluaran mingguan untuk konsumsi. Sebagian besar peserta mengaku bahwa nasi merupakan salah satu dari tiga pengeluaran terbesar  pangan masing-masing. Berdasarkan dari temuan tersebut, peserta ditantang untuk menyusun menu bergizi berbasis pangan lokal non-beras dan non-terigu, dengan anggaran maksimal Rp 50.000.

Pada hari kedua pelatihan, para peserta diajak untuk mengembangkan kreativitasnya dengan membuat olahan pangan lokal. Olahan pangan lokal yang dibuat harus memiliki kandungan gizi yang seimbang dan biaya yang terjangkau. Bahan-bahan diperoleh dari sumber yang beragam seperti pasar tradisional, pekarangan rumah, hingga kebun komunitas. Proses memasak tidak dilakukan di dapur profesional, melainkan di 10 rumah warga dengan peralatan dapur rumahan yang sederhana.

Para peserta menanggapi tantangan ini dengan antusias. Akhirnya terciptalah 10 menu sehat yang berbahan lokal dengan harga terjangkau, berkisar antara Rp 10.000 hingga Rp 30.000 per porsi. Setiap hidangan tersebut memenuhi kebutuhan gizi lengkap, mulai dari karbohidrat, protein, serat, hingga vitamin. Menu yang diciptakan tidak hanya mampu memanfaatkan sumber pangan lokal namun juga menunjukkan bahwa pangan sehat bisa dibuat dengan sederhana, murah, dan berbasis potensi lokal.

Menu yang diciptakan peserta pelatihan

Utik, peserta pelatihan dari Desa Golo Desat mengungkapkan pelatihan ini telah membantunya memahami hal dasar tentang pangan dan gizi. Selain itu, dirinya juga merasa mendapatkan wawasan baru tentang pangan yang tidak harus bergantung ke satu jenis untuk memenuhi kebutuhan gizi dan pangan lokal bisa menjadi sumbernya.

“Melalui pelatihan ini saya sekarang mengerti pola makan yang bernutrisi seimbang. Saya juga jadi yakin bahwa pangan lokal sangat layak menjadi pilihan untuk memenuhi gizi kita karena dekat, murah dan juga sehat” terang Utik.

Melalui pelatihan ini, Konsorsium Pangan Bernas berharap orang muda tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga aktor utama dalam perubahan sistem pangan. Mereka diharapkan menjadi agen perubahan di komunitasnya, mempengaruhi keputusan rumah tangga, hingga memberi suara dalam proses kebijakan yang berpihak pada ketahanan pangan dan gizi berkelanjutan.

Pangan Bernas telah meluncurkan Modul Pola Konsumsi Pangan dan Gizi yang dapat diakses melalui tautan berikut: https://bit.ly/ModulPangandanGizi. Modul ini disusun sebagai panduan untuk memahami pola konsumsi pangan yang sehat dan bergizi, dengan tetap memperhatikan konteks lokal dan prinsip keberlanjutan. Pada modul tersebut juga tersedia visualisasi menarik mengenai isi dan struktur modul, sehingga memudahkan pembaca dalam memahami materi.

DItulis Oleh: Rizky C Nurani, Anisa Nurkasanah, Said Abdullah

Leave a Comment