web analytics

Sarjana Sastra Inggris yang “Nyasar” ke Pertanian

02
Jul

Bogor, 30 Juni 2020 – Saat memilih untuk kuliah di jurusan sastra Inggris, tak terbayang di benak Maya Stolastika, jika masa depannya justru ada di bidang pertanian. Terlebih, “tersasar”-nya Maya ke bisnis pertanian, justru bukan dimulai dari kesenangannya bertani, tetapi yoga.

Ceritanya, di tahun 2007, tepatnya di bulan Agustus, saat itu Maya dan beberapa kawannya, mengikuti kegiatan di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Yoga. Nah, dari ikut kegiatan yoga ini, Maya dan kawan-kawannya sempat berkunjung ke Bali, untuk belajar yoga. Nah, saat belajar yoga inilah, Maya dan kawan-kawannya mendapatkan pertanyaan yang ‘mencerahkan’.

“Kami ditanya, apakah kehadiran mu di dunia ini sudah memberikan dampak positif, manfaat bagi orang lain, atau justru memberikan beban? Rasanya tertampar jiwa ini, di dunia ini saya mau ngapain?” ujar Maya.

Maka, setelah itu, Maya bersama kawan-kawan pun mulai berpikir melakukan kegiatan agar hidup mereka di dunia menjadi berguna bagi sesama. Pilihan pun jatuh pada pertanian, khususnya pertanian organik.

“Kami mengenal filosofi pertanian organik, tidak hanya bicara tentang hasil bercocok tanam, tetapi juga proses budidaya bisa memberikan kebaikan sebesar-besarnya pada lingkungan,” jelas Maya.

Tahun 2008, dengan modal hasil berjualan pulsa telepon seluler, Maya bersama empat kawannya, termasuk Herwita, memulai perjalanan mereka sebagai petani organik. Perempuan yang kini menjabat sebagai Sekjen Aliansi Organis Indonesia (AOI) ini memulai usaha pertanian organik di lahan seluas 5000 meter persegi, dengan modal pengetahuan nol sama sekali.

“Saat 2008 kami punya kebun semua proses benar-benar dimudahka Tuhan. Background sastra Inggris tidak mengenal dunia pertanian, apalagi organik, kami mulai bercocok tanam dengan tidak mengerti mau diapakan kebun ini,” kata Maya.

Maka hasilnya adalah kerugian. Tahun 2009, dari serangkaian kegagalan panen, Maya dan kawan-kawan mengalami kerugian. “Modal habis dan kita punya utangapa kebun mau diapan 2009-2009 kita merugi modal habs dan kita punya utang,” ujarnya.

Tahun itu menjadi titik nadir bagi Maya apakah akan meneruskan usahanya? atau mundur? Terlebih dengan kegagalan itu, 3 orang temannya kemudian mundur. “Tersisa saya dan Wita, dan saat itu sebenarnya untuk tidak melanjutkan juga fine saja,” jelas Maya.

Tetapi pada prosesnya ketika sedang bimbang, Maya dan Wita seolah mendapat “ilham” untuk melanjutkan usaha. “Kami mendapatkan telepon dari seorang ibu pelanggan sayur kami. Mbak, kenapa nggak kirim sayur lagi? Kemudian kita tersadar bahwa apa yang kami lakukan ada manfaatnya bagi orang lain meski baru hanya satu orang ibu,” jelas Maya.

Maka di tahun 2009, Maya memulai lagi usahanya dengan menyewa lahan sekaligus melakukan survei di 7 supermarket untuk bisa memasarkan produknya. Hasilnya lumayan, di akhir tahun mereka bisa impas alias tidak lagi berutang. Tetapi bukan berarti sejak itu usaha mereka mulus-mulus saja.

Ketika lulus kuliah di tahun 2010, tantangan justru datang dari keluarga sendiri. “Sarjana sastra Inggris kok malah jualan sayur,” kira-kira begitu pertanyaan yang muncul. Nah, Maya dan Wita pun kemudian mulai dihinggapi keraguan. Terlebih mereka menyadari dengan latar belakang pendidikannya mereka memang tak punya kapasitas memadai untuk bersaing di dunia pertanian.

Maka sepanjang tahun 2010-2011, Maya malah berkelana ke Bali untuk bekerja. Namun panggilan untuk menekuni dunia pertanian membuatnya kembali ke sana. Di tahun 2012, Maya dan Wita kembali ke dunia pertanian organik dengan mendirikan ‘Twelve Organic’. “Nama Twelve Organic sebagai pengingat kita memulai lagi di tahun 2012,” jelas Maya.

 Tetapi tantangan dan rintangan masih juga belum mau pergi dari sisi Maya dan Wita. Tahun 2013 mereka gagal panen. “Ada orang yang ‘nakal’ di tangki, tandon air kita ditaruh sesuatu sehingga semua tanaman mati. Alhamdulillah, kami tidak mengalami apa-apa karena kami tidak mengkonsumsi air dari tandon itu,” kata Maya.

Memasuk masa tahun 2013-2014, praktis, Maya dan Wita nyaris tidak memiliki apa-apa. Tetapi dengan menguatkan hati, di tahun 2015 mereka melanjutkan usaha, sampai di tahun 2016 mereka mendapatkan informasi dari seorang konsumen, mereka mendapatkan informasi tentang ajang pemilihan Duta Petani Muda.

“Kami ikut daftar dan terpilih kemudian mengikuti masa karantina serta pelatihan selama 10 hari. Di situ pemahaman kita dibuka, kita menaikkan kapasitas kita melalui pelatihan yang diberikan,” kata Maya, yang belakangan terpilih menjadi Champion Duta Petani Muda 2016.

Sejak itu, usaha pertanian organik “Twelve Organic” berkembang. Dan berbekal pelatihan yang diterima selama ajang Duta Petani Muda, Maya dan Wita pun tak pelit berbagi ilmu dengan sesama petani. “Kami membentuk kelompok petani yang terdiri dari 25 petani perempuan dan 2 petani laki-laki,” ujarnya. Dari berbagai pengalamannya, Maya belajar, bahwa selain harus mampu meningkatkan kapasitas diri, petani Indonesia juga harus mandiri dan merdeka. “Petani harus merdeka, kami memberikan pilihan bukan diberikan pilihan. Kami membuat edukasi, agar petani memberikan pilihan kepada konsumen, memberikan daftar panen dan konsumen memilih jenis sayuran apa yang dikonsumsi dari daftar itu,” pungkasnya.

Leave a Comment

For security, use of Google's reCAPTCHA service is required which is subject to the Google Privacy Policy and Terms of Use.

I agree to these terms.