web analytics

LANGKAU, LUMBUNGNYA SUKU DAYAK

24
Aug

Langkau merupakan tempat untuk menyimpan pangan bagi suku Dayak Bekati dan Benyadu di Kecamatan Triak, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Setelah panen padi ladang, petani membawa padinya pulang dan menyimpannya di Langkau. Sebelum padi disimpan di dalam Langkau, petani menjemur terlebih dahulu. Penjemuran ini untuk mengurangi kadar air bulir padi. Bagi mereka, penjemuran dapat membuat padi tidak gampang rusak saat disimpan.

Penjemuran dilakukan paling tidak 2 kali,  yang pertama setelah padi dipanen sesaat sebelum disimpan di dalam Langkau. Penjemuran yang kedua dilakukan kembali saat padi akan digiling menjadi beras. Proses penjemuran padi atau gabah ini dilakukan di bawah terik matahari dengan alas anyaman bambu/rotan atau Sebagian orang saat ini sudah ada yang menggunakan terpal plastik.

Selain padi, Langkau juga untuk menyimpan jagung dan benih. Benih yang disimpan di Langkau adalah benih padi yang telah dipilih dari sawah/huma. Bagi masyarakat Dayak Bekati, benih adalah sumber penghidupan yang harus dipilih secara hati-hati dan disimpan dengan sepenuh hati. Dan di Langkau ini lah petani menyimpan benih padi. Untuk jagung, petani lebih memilih untuk membeli benih pada setiap masa tanamnya. Hal ini karena jagung yang dibudidayakan disana adalah jagung jenis hibrida.

BACA JUGA: UPOV Convention 1991, Kebiri Hak Petani atas Benih

Secara fisik Langkau ini berbentuk rumah panggung kecil dengan struktur bagunan dari kayu, dinding terbuat dari papan kayu dan atap menggunakan daun sagu (Metroxylon sagu) atau kekinian sudah banyak menggunakan atap seng. Berdasarkan tutur dari Nadia -pemuda Dayak Bekati dan juga mahasiswa Universitas Tanjungpura-, bentuk panggung ini menjadikan Langkau tidak mudah dijangkau oleh hama yang berpotensi memakan padi yang disimpan di dalamnya serta menghindari kelembaban.

Konsepsi kedaulatan pangan melihat Langkau ini sebagai sistem pangan lokal[1]. Dalam buku indeks kedaulatan pangan yang pernah diterbitkan oleh KRKP (2019) bahwa indikator dari sistem pangan lokal ini adalah keanekaragaman pangan, penggunaan bahan pangan lokal, pengolahan dan penyimpanan pangan secara mandiri, tingkat ketahanan pangan dan kemanan pangan. Langkau ini sendiri merupakan representative dari indikator pengolahan dan penyimpanan pangan secara mandiri.

Langkau adalah kearifan masyarakat suku Dayak Bekati dalam memastikan ketersediaan pangannya dengan cara mereka, sumber daya alam mereka dan budaya mereka. Berdasarkan pengalaman mereka, gabah/padi yang disimpan di dalam Langkau dapat bertahan atau dapat memenuhi pangan keluarga sampai pada musim panen berikutnya. Masyarakat Dayak di Bengkayang ini sendiri menanamn padinya adalah jenis lokal dengan masa dari menanam sampai panen membutuhkan waktu 5 bulan.

Bentuk Bangunan Fisik Langkau (Foto Oleh: Nadia)

Sistem pangan Langkau juga menjadi buffer bagi sanak-saudara atau tetangga yang kehabisan pangannya atau yang mengalami kesulitan. Bagi tetangga yang mengalami kesulitan dapat mengakses bahan pangan di Langkau milik tetangga lainnya dan dapat menggantinya saat masa panen esok. Bagi yang panenya berlebih, melebihi kebutuhan konsumsi sampai masa panen berikutnya. Biasanya mereka menjual hasil panen tersebut kepada pedagang gabah. Namun tetap mereka mengutamakan hasil panen ini untuk kebutuhan pangan di dalam keluarga. Menjual padi dilakukan saat ada surplus produksi dari kebutuhan rumah tangga.

BACA JUGA: ANAK MUDA LEMBATA DAN FLORES TIMUR SERUKAN TINDAKAN NYATA SELAMATKAN BUMI

Dalam menghayati proses penyimpanan pangan di dalam Langkau, mereka juga melakukan prosesi budaya sebagai ungkapan terimakasih kepada keyakinan mereka. Saat panen padi mereka melakukan ritual dengan menyembelih ayam kampung secara bersama-sama kemudian makan bersama. Masyarakat Dayak Bekati ini juga membawa sekarung padi ke pihak gereja sebagai ungkapan terimakasih kepada tuhan.

Sistem pangan lokal ini, menjadi kekayaan budaya pangan nusantara yang musti tetap lestari untuk menjaga ketahanan pangan di dalam negeri agraris. Bahkan Indonesia patut belajar kepada masyarakat Dayak Bekati untuk mengatur penyelenggaraan pangan yang berdaulat dan menjamin ketahanan pangan. Jika belum mampu belajar dan meniru, paling tidak sistem pangan yang dibangun secara nasional harus dapat melindungi dan janganNmenghancurkan sistem pangan lokal ini. (RPN)


[1] Indeks Kedaulatan Pangan. KRKP 2019