web analytics

Anak Muda Kunci Sistem Pangan Indonesia yang Berdaulat

28
May

Bogor, 28 Mei 2021.Dalam rangka mendorong transformasi sistem pangan yang lebih resilien, adil dan berdaulat, Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) dan Yayasan Kehati menyelenggarakan dialog independent. Kegiatan ini dilaksanakan di tingkat nasional dengan tema youth for future of Indonesia food system.  Independen dialog ini merupakan rangkaian kegiatan UN Food Sytem Summit tahun 2021.  Diikuti oleh 53 peserta yang terdiri dari anak muda baik laki-laki maupun perempuan dari pulau sumatera, jawa, NTT, Kalimantan, dan Sulawesi.

Said Abdullah, kordinator KRKP selaku convenor indenpenden dialog ini mengatakan bahwa transformasi sistem pangan menjadi keniscayaan karena saat ini belum berdaulat dan sangat rentan terkena guncangan. Selain itu sistem pangan juga masih belum adil terutama bagi para produsennya. Adanya pandemic ini harusnya menjadi momentum merubah sistem pangan sekaligus sebagai jalan mengurangi kelaparan, kekurangan gizi dan kemiskinan secara signifikan.

“kami secara khusus mengajak anak-anak muda untuk terlibat karena kami yakin dan percaya bahwa anak muda akan menjadi pelaku utama yang akan menentukan sistem pangan bangsa ini” ujar said.

Sementara itu, Prof. Damayanti Buchori selaku curator dialog, dalam pengantarnya mengingatkan bahwa dunia terus berubah dengan kompleksitas yang terus meningkat sehingga diperlukan upaya yang multidisiplin dan sekaligus transdisiplin menghadapinya. Dalam hal pangan pun demikian, sistem pangan yang adil, berdaulat dan resilien akan dapat terwujud jika interaksi multipihak dan sektor hadir. Anak-anak muda bisa menjadi bagian penting dalam mendorong interaksi tersebut.

Food system adalah “wicked problem” yang memerlukan  perubahan paradigma kehidupan dalam penanganannya. System thinking perlu dijadikan landasan dalam mencari paradigm baru yang perlu dikembangkan.

“Anak-anak muda harus ambil bagian untuk menjawab tantangan perubahan yang makin kompleks sekaligus memastikan bahwa humanity ada dalam sistem pangan karena Food System is something about humanity” tegasnya.

Pada sesi diskusi muncul berbagai gagasan menarik dari para peserta yang sangat khas anak muda. Antara lain tentang gastrodiplomasi, mempolulerkan pangan lokal yang terintegrasi ke pasar. Ada juga gagasan tentang desentralisasi produksi pangan tidak terpusat (bukan model food estate, dll) dan memperkuat pangan lokal, keanekaragaman pangan sesuai tradisi setiap wilayah dan dapat dibangun dalam dalam skup provinsi.

Selian itu juga muncul gagasan pentingnya realisiasi reforma agraria dan pembatasan impor, penciptaan pasar inklusif dengan memperkuat UMKM pangan dan BUMDES sebagai market chanel serta gagasan tentang perlunya keterlibatan para pegiat media social alias buzzer untuk mempromosikan pangan lokal nusantara.

Atas hasil diskusi ini, penyelenggara menyampaikan akan merumuskan dan menjadi dokumen usulan dari para anak muda yang terlibat dalam kegiatan ini. Selanjutanya dokumen tersebut akan disampaikan kepada Bappenas yang mewakili Indonesia sebagai national convenor dan ke UNFFS secreratiat.

“Inilah suara anak-anak muda yang akan kami sampaikan ke pemerintah dan UN. Dengan demikian kami berharap suara anak anak muda yang selama ini tidak pernah didengar dapat diperhatikan dan mereka menjadi actor utama untuk mewujudkan sistem pangan yang adil, resilien dan berdaulat” pungkas Said.

Kontak: Said Abdullah, 0181382151413

Leave a Comment

For security, use of Google's reCAPTCHA service is required which is subject to the Google Privacy Policy and Terms of Use.

I agree to these terms.