web analytics

Orang Muda Hadirkan Ruang Kreatif Pangan Lokal di Festival Golo Koe 2025

25
Aug

Labuan Bajo, 15 Agustus 2025 – Festival Golo Koe tahun 2025 ini menjadi momentum penting bagi orang muda Manggarai Barat untuk menunjukkan kontribusi nyata dalam merawat lingkungan dan memperkuat budaya lokal. Melalui side event pameran booth “Sapo Dite” yang digagas komunitas Lino Tana Dite dengan dukungan program Urban Futures di Manggarai Barat, orang muda menghadirkan eksplorasi pangan lokal, permainan interaktif, hingga display infografis yang menarik perhatian rata-rata 30 pengunjung per hari.

Inisiatif ini merupakan bagian dari kerja bersama Konsorsium Pangan Bernas (Yayasan KEHATI, KRKP, YAKINES) dengan dukungan Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial untuk mendorong sistem pangan perkotaan yang inklusif, berkelanjutan, dan tangguh terhadap perubahan iklim.

Antonius Babo Wea yang biasa disebut Anton, program manager Urban Futures dari Yakines mengungkapkan bahwa Konsorsium Pangan Bernas bersama orang muda turut berpartisipasi pada Festival Golo Koe 2025 yang salah satunya terlibat dalam pameran untuk mempromosikan pangan lokal Manggarai Barat yang mulai terlupakan. Melalui pameran ini pengunjung atau publik secara luas dapat mengenali dan menghidupkan kembali budaya serta pangan lokal sebagai salah satu cara menguatkan sistem pangan di Kabupaten Manggarai Barat.

“Kami percaya bahwa orang muda memiliki peran penting dalam membangun masa depan pangan di Manggarai Barat. Lewat ruang-ruang seperti Festival Golo Koe ini kita melihat kreativitas orang muda dapat menghadirkan solusi berbasis budaya lokal dan berorientasi pada keberlanjutan,” ujar Anton. 

Booth “Sapo Dite” menjadi pusat perhatian dengan cara kreatif memperkenalkan pangan lokal. Melalui sajian cerita, permainan, dan visual, pengunjung tidak hanya menikmati tetapi juga memahami kembali nilai budaya yang melekat pada makanan tradisional orang Manggarai.

Sementara itu, Yoing, orang muda anggota Lino Tana Dite dampingan Konsorsium Pangan Bernas dari wilayah Pantar menyatakan dalam satu tahun terakhir mereka telah banyak melakukan aksi di tingkat komintas. Aksi mereka dalam bentuk konservasi lingkungan, pengembangan usaha pertanian dan pengolahan pangan lokal. Dalam perjalanannya, orang-orang muda di Lino Tana Dite telah menghasilkan berbagai produk olahan pangan.

“Kami ingin menunjukkan bahwa pangan lokal bukan sekadar makanan, tapi juga identitas dan kebersamaan. Lewat pameran ini, kami belajar bagaimana menjaga bumi sekaligus merayakan budaya” ungkap Yoing. 

Antusiasme masyarakat pun terlihat dari respon positif pengunjung booth Sapo Dite yang tidak hanya dari wilayah Manggarai Barat saja namun pengunjung dari negara lain. Salah satunya terucap dari Martha dari Belanda merasa kagum pada berbagai produk yang dihasilkan orang muda komunitas Lino Tana Dite. “Saya sangat senang bisa melihat langsung kreativitas anak muda di booth ini. Bukan hanya informatif, tapi juga menyenangkan. Keren sekali Indonesia memiliki generasi yang peduli lingkungan dan budaya,” tutur Martha.

Dengan tema besar Festival Golo Koe tahun 2025 ini, “Merajut Kebangsaan dan Pariwisata Berkelanjutan yang Sinodal dan Inklusif,” kehadiran orang muda dalam pameran ini menjadi bagian penting untuk membangun ruang penyadaran bagi kita untuk kembali pada budaya dan kearifan lokal agar sistem pangan di Manggarai Barat lebih berkelanjutan.

“Kegiatan ini diharapkan menjadi titik awal bagi semakin banyak anak muda untuk berani mengambil peran sebagai agen perubahan, memperkuat solidaritas antar komunitas, serta mewujudkan Manggarai Barat yang berkelanjutan dan berbudaya” pungkas Anton.