Page 15 - Bulletin KRKP 001
P. 15
Bumdes Tanah Bojang:
Pengecer Pupuk
Bersubsidi di Flores Timur
T H O M A S U R A N ( L S M A Y U T A N I M A N D I R I )
Pengurusan legalitas administrasi sebagai pengecer pupuk
Dalam diskusi para pihak yang diselenggarakan di Desa
dilakukan oleh Bumdes Tana Bojang. Kami LSM Ayu Tani
Boru Kedang tanggal 16 Januari 2018, dihadiri Wakil Bupati
bersama para penyuluh pertanian (PPL) melakukan diskusi
Flores Timur, penyuluh pertanian dari dua kecamatan yaitu
dengan petani di desa-desa sekaligus untuk menyusun
Wulanggitang dan Ilebura, serta utusan pengurus
RDKK. Hal menarik yang kami temukan dalam diskusi
kelompok tani dan utusan pemerintahan desa. Kepala Desa
penggunaan pupuk bersubsidi, Bapak Sesu Maget, petani
Boru Kedang menegaskan, secara ekonomi menjadi
di Desa Odjan Detun menceritakan, dia pernah
pengecer pupuk bersubsidi tidak menguntungkan.
menggunakan pupuk bersubsidi anorganik di ladangnya.
Sebelumnya, keluarga mereka menanam padi di ladang
“Berapa nilai keuntungan yang Bumdes dapat sebagai
hanya sebagai cara untuk membersihkan tanaman mete
penyalur pupuk bersubsidi? Sangat kecil jika dibanding
dari gulma. Tidak bertujuan khusus untuk dapat panen
usaha lain. Tapi mengapa Bumdes Tana Bojang bersedia
padi. Setelah dia menerapkan pupuk NPK, alhasil padinya
menjadi pengecer? Ini semua demi pendekatan pelayanan
bisa berproduksi mencapai kurang lebih 0,5 ton dalam
kepada petani. Selama ini, petani sawah khususnya,
luasan mencapai 1 Ha. Sebelumnya hanya mencapai 5–10
mengeluh karena sulit mendapatkan pupuk. Dengan
kg gabah.
pertimbangan pelayanan untuk petani, Bumdes Tana
Bojang bersedia menjadi pengecer. ”
Bukan saja hasil padi, kisahnya lagi, penggunaan NPK
pada padi berdampak pada peningkatan produksi mete.
“Berkaitan dengan isu politik," jelas Kades Boru Kedang
“Yah, secara tidak sadar saya merasa ada manfaat
melanjutkan, "sebenarnya menjadi penyalur pupuk
menerapkan pupuk NPK di ladang. Produksi padi
bersubsidi juga kurang pas karena tidak sejalan dengan
memuaskan dan produksi mete pun meningkat mencapai
kebijakan politik di tingkat kabupaten. Saat ini,
500 kg/ha. Sebelumnya produksi mete di kebun tersebut
kepemimpinan Bupati Flores Timur lebih fokus pada
maksimal hanya mencapai 300 kg."
gerakan pertanian organik. Bagaimana mungkin, dalam
penyaluran pupuk bersubsidi yang memperkenalkan
Dengan hadirnya Bumdes Tana Bojang sebagai pengecer
adalah pupuk anorganik?"
pupuk, kebutuhan terhadap pupuk dari petani di
Kecamatan Wulanggitang, Ilebura dan Titehena mulai
Dilema memang, tetapi kami sebagai pemerintah desa
teratasi secara tepat waktu dan tepat jumlah. Sebelumnya
tetap mempertimbangkannya. Namun kami sadar, kondisi
pupuk terlambat datang karena jarak yang jauh antara
petani sawah yang sudah bergantung pada pupuk
petani dengan pengecer. Sebelum Bumdes ini jadi
anorganik. Maka kami Pemdes dan Bumdes bersepakat
pengecer, petani sangat menghadapi kesulitan. Misalnya,
menerima sebagai pengecer pupuk bersubsidi. Lagi pula,
saat petani butuh pupuk dan tidak tersedia. Saat petani
pupuk organik juga disiapkan dalam kesatuan paket pupuk
tidak butuh, pupuk tersedia di pengecer.
bersubsidi.
13

