olimp casino вход non gamstop uk casino aviator online casino chicken road avis

Kolaborasi Multipihak Perkuat Upaya Penyelamatan Pangan di Manggarai Barat

09
Jun

Manggarai Barat, 3-4 Juni 2026 – Upaya penyelamatan pangan menjadi salah satu langkah penting di tengah banyaknya timbulan sisa pangan dan sampah makanan di Labuan Bajo yang mencapai 4.8306 ton per tahun. Besarnya limbah pangan ini berpengaruh pada ketahanan pangan dan sistem pangan Labuan Bajo. Menyadari pentingnya isu tersebut, Konsorsium Pangan Bernas melalui Program Urban Futures mengadakan kegiatan seminar dan Focus Group Discussion (FGD) Penyelamatan Pangan di Kabupaten Manggarai Barat yang bertemakan “Penguatan Kolaborasi Multi pihak untuk Penyelamatan Pangan di Kabupaten Manggarai Barat.”

Kegiatan ini mempertemukan berbagai stakeholder yang terdiri dari pemerintah daerah, pelaku usaha hotel, restoran, kafe, pemilik kapal, komunitas, CSO, dan Forum Multipihak Sistem Pangan Kabupaten Manggarai Barat. Pertemuan ini dilaksanakan guna membangun kesepahaman bersama mengenai penyelamatan pangan serta merumuskan Langkah kolaboratif yang dapat diterapkan di tingkat daerah.

Kepala Bappeda Kabupaten Manggarai Barat, Yohanes Hani dalam sambutan pembukaanya mengungkapkan bahwa ketahanan pangan merupakan fondasi penting dalam mewujudkan masyarakat yang sejahtera dan kuat. Menurutnya, kemampuan masyarakat untuk bertahan dan berkembang sangat ditentukan oleh ketersediaan pangan yang mencukupi. Namun, mewujudkan ketahanan pangan saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari dampak perubahan iklim, alih fungsi lahan pertanian akibat pertumbuhan penduduk, keterbatasan infrastruktur, hingga dinamika ekonomi global yang turut mempengaruhi sistem pangan. “Yang menunjukkan masyarakat sejahtera dan masyarakat kuat adalah ketika pangannya kuat. Masyarakat bisa hidup dan bertahan apabila ketersediaan pangannya cukup” ujarnya.

Sementara itu, Said Abdullah perwakilan Konsorsium Pangan Bernas menekankan bahwa kehilangan dan pemborosan pangan berdampak langsung pada ketahanan pangan, lingkungan, dan ekonomi lokal. Menurutnya, setiap pangan yang terbuang bukan hanya hilangnya makanan layak konsumsi, tetapi juga hilangnya sumber daya yang telah digunakan untuk memproduksinya, seperti air, energi, tenaga kerja, dan biaya produksi. “Ketika kita mengurangi pangan berlebih, kita juga menyelamatkan ekonomi lokal,” ujar Said.

Said menilai Manggarai Barat perlu lebih serius menanggapi isu penyelamatan pangan, mengingat tekanan sektor pariwisata yang terus meningkat sejak 2014. Peningkatan permintaan pangan, menurutnya, turut berkontribusi pada meningkatnya limbah pangan sehingga diperlukan pendekatan sistematik yang melibatkan seluruh pelaku rantai pasok pangan.

Forum seminar dan diskusi ini menghasilkan lima agenda kolaborasi yang akan didorong bersama dalam upaya penyelamatan pangan di Kabupaten Manggarai Barat. Kelima agenda tersebut adalah pertama, Penyusunan food waste baseline tahunan agar Labuan Bajo memiliki dashboard data kehilangan dan pemborosan pangan yang diperbarui serta dipublikasikan secara berkala. Kedua, penguatan komitmen dan gerakan hotel, restoran, kafe, dan kapal wisata untuk mengurangi limbah pangan. Ketiga, pengembangan platform redistribusi pangan untuk memastikan pangan layak konsumsi disalurkan kepada kelompok rentan secara aman dan tepat waktu. Keempat, mendorong peningkatan penggunaan bahan pangan lokal oleh hotel, restoran, kafe, dan kapal wisata. Kelima, penyusunan road map sistem pangan yang memuat pengelolaan sampah dan penguatan sistem pangan, mulai dari produksi, distribusi, konsumsi, hingga pengelolaan limbah.

Direktur Kewaspadaan Pangan dan Gizi Badan Pangan Nasional, Nita Yulianis, menjelaskan bahwa penyelamatan pangan membutuhkan dukungan kebijakan, kolaborasi lintas sektor, edukasi masyarakat, penyediaan sarana pendukung, serta penguatan data dan sistem informasi yang terintegrasi. “Penyelamatan pangan bukan sekedar mendistribusikan makanan berlebih, tetapi memastikan bahwa pangan masih layak konsumsi dan pemanfaatan yang sesuai tepat sasaran” tambahnya.

Ia juga mengapresiasi langkah Kabupaten Manggarai Barat yang mulai membangun kolaborasi multipihak dalam isu penyelamatan pangan. Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun gerakan pangan yang berkelanjutan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Kabupaten Manggarai Barat, Vinsensius Gande, menyoroti besarnya skala masalah limbah pangan secara nasional. “Setiap tahun Indonesia membuang sekitar 23-48 juta ton makanan. Angka itu setara dengan 115-184 kilogram per orang per tahun, atau sekitar 0,3-0,5 kilogram per hari. Data ini menjadi pijakan gerakan food rescue yang kini mulai digalakkan di Manggarai Barat.” Jelas Vinsensius.

Seminar juga menghadirkan pembelajaran dari Pemerintah Kota Tasikmalaya melalui Program BAKUL. Dr. Uus Supangat, Kepala Dinas Sosial Kota Tasikmalaya, dalam penyampaiannya mengenai pengelolaan Program Bakul Tasik mengatakan bahwa pengelolaan dan redistribusi pangan berlebih dari hotel untuk disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan adalah langkah penting. Tidak hanya membawa kemanfaatan lingkungan namun juga sebagai jalan mengurangi persoalan gizi dan kesenjangan. “Program Bakul Tasik menunjukkan bahwa kolaborasi antara pemerintah, sektor usaha, dan masyarakat merupakan syarat wajib untuk menyelamatkan pangan yang masih layak konsumsi. Selain itu, juga penting untuk memastikan pemanfaatannya dilakukan secara aman dan tepat sasaran” jelasnya.

Pada hari kedua, kegiatan dilanjutkan dengan Focus group Discussion (FGD) yang melibatkan  Organisasi perangkat daerah (OPD), Forum Multipihak Sistem Pangan Manggarai Barat, CSO, dan Komunitas Orang muda Lino Tana Dite. FGD menjadi ruang untuk mengidentifikasi peran, tantangan, memetakan peluang, menyusun strategi dan rencana tindak lanjut dalam penguatan gerakan penyelamatan pangan di Manggarai Barat.

Sebagai tindak lanjut, para peserta menyepakati beberapa langkah awal, di antaranya penyelenggaraan pertemuan lanjutan dengan pelaku Horeka, pelaksanaan edukasi dan sosialisasi penyelamatan pangan, penyusunan surat edaran atau himbauan bupati untuk mendukung gerakan donasi pangan, pembentukan koordinasi multipihak yang lebih terstruktur, serta pelaksanaan proyek percontohan sebagai tahap awal implementasi program penyelamatan pangan di Kabupaten Manggarai Barat.

Melalui rangkaian kegiatan ini, para peserta menegaskan pentingnya membangun kolaborasi lintas sektor untuk mengurangi kehilangan dan pemborosan pangan, memperkuat ketahanan pangan daerah, serta mendukung pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan. Kolaborasi yang terbangun diharapkan menjadi langkah awal dalam membentuk penyelamatan pangan yang berkelanjutan di Manggarai Barat.

Informasi lebih lanjut:

Imardya Al Rainisa

Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP)

imardyaa@gmail.com

Link     Dokumentasi: https://bit.ly/KolaborasiMultipihakPerkuatUpayaPenyelamatanPangan