
Oleh: Amanda Putriza Nurrahma Hikmat, Departemen Geofisika dan Meteorologi, IPB University (Magang KRKP 2025)
Sebagai mahasiswa yang mendalami ilmu mengenai cuaca dan iklim, saya terbiasa memahami krisis iklim dalam bentuk angka, data, dan grafik. Namun, buku “Perjalanan Perempuan dalam Memahami dan Mengatasi Krisis Iklim” membuka perspektif baru saya dalam melihat sisi lain yang lebih dekat dengan kehidupan manusia dan pengalaman sehari-hari terutama dalam peran perempuan didalamnya. Secara sederhana, krisis iklim dapat dipahami sebagai titik kritis dari perubahan iklim, yaitu kondisi ketika keseimbangan bumi terganggu hingga masa depan kehidupan berada dalam ancaman. Karena itu, upaya untuk menanggulanginya menjadi sangat penting. Melalui buku ini, saya menemukan berbagai kisah inspiratif dari perempuan-perempuan yang melakukan langkah-langkah kecil namun berarti dalam menjaga bumi dan beradaptasi terhadap dampak krisis iklim.
Buku ini ditulis Nur Azizah untuk KRKP (Koalisi Rakyat Ketahanan Pangan), buku Perjalanan Perempuan dalam Memahami dan Mengatasi Krisis Iklim menampilkan lima kisah inspiratif perempuan yang berjuang menghadapi dampak krisis iklim di berbagai daerah, baik desa maupun kota. Di tengah kehidupan perkotaan, bu Lily Batara menjadi contoh bahwa upaya menghadapi krisis iklim dapat dimulai dari lingkungan tempat tinggal sendiri. Ia harus berhadapan dengan tantangan seperti menurunnya produksi pangan, kenaikan harga bahan makanan, serta dampak pandemi yang mengancam ketahanan pangan keluarga. Bersama komunitasnya, bu Lily menginisiasi kebun kolektif dan memanfaatkan lahan pekarangan untuk menanam berbagai sayuran sebagai sumber pangan sehat dan mandiri. Salah satu inisiatifnya adalah membangun kebun Drangrang, yang menjadi sumber pangan alternatif bagi masyarakat di komplek tempat tinggalnya. Upaya ini tidak hanya bermanfaat secara ekonomi, tetapi juga menjadi langkah kecil yang nyata dalam menghadapi dan mengurangi dampak krisis iklim.
Sementara itu, di Indramayu, dua perempuan tangguh Mama Reti dan bu Dulinah berjuang menghadapi perubahan iklim yang mempengaruhi mata pencaharian mereka. Bagi Ibu Dulinah, seorang petani perempuan, pertanian organik adalah jalan yang ia pilih sebagai bentuk perlawanan terhadap kerusakan lingkungan serta upaya menjaga ketahanan pangan di desanya. Melalui sistem pertanian organik ini, ia berkomitmen untuk mengurangi penggunaan bahan kimia dan kembali memanfaatkan unsur alami dalam proses tanam. Hasil panennya, terutama beras organik, memang memiliki rasa yang tidak terlalu manis, tetapi lebih awet dan tidak mudah basi. Selain menjalankan praktik ramah lingkungan, Ibu Dulinah juga belajar mengenai perubahan iklim. Ia memiliki harapan besar untuk dapat mengembangkan sektor agraris di desanya melalui penerapan pertanian organik yang berkelanjutan dan memberdayakan masyarakat sekitar.
Sementara itu, Mama Reti, yang juga merupakan ketua kelompok buruh tani, harus beradaptasi dalam era perubahan iklim. Sejalan dengan Ibu Dulinah, Mama Reti turut menerapkan pertanian organik meskipun awalnya sempat dianggap kuno oleh sebagian orang. Namun, justru melalui cara ini biaya produksi dapat ditekan dan lahan menjadi lebih sehat. Dampak perubahan iklim sangat terasa bagi Reti, sehingga kegiatan menanam menjadi bentuk adaptasinya terhadap situasi tersebut. Kepeduliannya terhadap lingkungan juga tercermin dari upayanya dalam membudidayakan maggot, yang mampu mengolah sisa makanan menjadi pupuk organik. Dengan langkah-langkah sederhana ini, Mama Reti menunjukkan bahwa menjaga lingkungan dan beradaptasi terhadap perubahan iklim bisa dimulai dari rumah sendiri.
Dari Flores, semangat serupa juga datang dari Ratni Colin dan Rosalina Dua Onan. Ratni, dengan nama lengkap Clarentina Colin merupakan salah sebagai local champion, yang aktif menyuarakan isu perempuan dan lingkungan. Ia berupaya mengajak masyarakat untuk kembali mengkonsumsi pangan lokal serta mendirikan sekolah alam sebagai sarana edukasi nilai-nilai ekologis sejak dini. Namun, mempromosikan pangan lokal di tengah kuatnya pengaruh adat dan kebiasaan lama bukanlah hal yang mudah baginya. Melalui pengembangan kedelai dan sorgum, Ratni tidak hanya berupaya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga membantu mengatasi masalah stunting dan mengurangi jejak karbon dari rantai pangan modern. Bersama kelompok local champion lainnya di Desa Rai, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, ia terus berdiskusi dan berkolaborasi untuk mewujudkan sekolah alam serta mengkampanyekan pentingnya konsumsi pangan lokal. Dengan semangat dan keteguhannya, Ratni menjadi agen perubahan yang memperjuangkan keadilan iklim melalui aksi nyata di tingkat lokal mendorong model pertanian dan sistem pangan yang tangguh serta berkelanjutan.
Rosalina Dua Onan bersama kelompok pemuda di desanya berupaya memperjuangkan kebijakan yang berpihak pada perempuan dan mengembangkan usaha pangan lokal guna mengatasi masalah gizi, kelaparan, dan stunting. Krisis iklim yang menyebabkan curah hujan tidak menentu dan panas berkepanjangan mendorongnya untuk berkolaborasi dengan Yayasan Ayu Tani Mandiri dan para petani dalam merancang model adaptasi pertanian. Mereka menanam tanaman umur panjang seperti kelapa, kakao, vanili, dan alpukat sebagai alternatif ketika tanaman pangan utama gagal panen. Rosalina berperan aktif dalam mendampingi petani melalui pelatihan perawatan tanaman, teknik sambung pucuk, serta pengendalian hama tradisional dengan pengasapan sabut kelapa. Ia juga menghidupkan kembali kearifan lokal dan semangat adaptasi masyarakat terhadap perubahan iklim. Untuk menjaga ketahanan pangan, masyarakat Hokeng Jaya tetap mengandalkan pangan lokal seperti olahan ubi saat stok padi dan jagung menipis.
Dari kisah-kisah diatas perempuan memiliki peran penting dalam menghadapi krisis iklim ini, karena mereka sering menjadi garda terdepan dalam mengelola sumber daya alam di tingkat rumah tangga maupun komunitas. Buku ini memperlihatkan bahwa ketika perempuan diberdayakan dan dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan lingkungan, solusi yang dihasilkan cenderung bisa lebih berkelanjutan dan berkeadilan. Bagi saya, buku ini bukan hanya sekedar cerita inspiratif. Namun bisa sebagai perspektif tambahan saya dalam mempelajari ilmu iklim yang biasa saya dapati di perkuliahan dengan dihubungkannya dengan cara yang realistis secara sosial. Ilmu meteorologi tidak boleh berhenti pada analisis data atau prediksi cuaca, melainkan perlu menjadi alat untuk memahami kehidupan dan membantu masyarakat beradaptasi. Krisis iklim bukan sekadar fenomena atmosfer, melainkan juga persoalan kemanusiaan yang menuntut empati dan kolaborasi lintas disiplin. Langkah-langkah kecil yang dilakukan dapat memberikan dampak besar, dan kisah-kisah seperti di atas masih bisa dikembangkan lebih jauh agar semakin banyak orang yang dapat merasakan manfaatnya secara lebih luas.
Sebagai penutup, buku ini mengajarkan bahwa menghadapi krisis iklim tidak hanya membutuhkan inovasi teknologi, tetapi juga perubahan cara pandang dan sikap hidup. Dari sudut pandang saya sebagai mahasiswa meteorologi, buku ini menjadi pengingat bahwa data dan teori hanyalah sebagian kecil dari pemahaman terhadap bumi. Selebihnya, ada dimensi kemanusiaan yang tidak bisa diukur, tetapi bisa dirasakan seperti keteguhan, empati, dan harapan. Melalui kisah-kisah perempuan yang berjuang dengan menciptakan berbagai inovasi dan menjaga lingkungannya, saya belajar bahwa menjaga bumi berarti juga menjaga kehidupan itu sendiri.