
Setiap kali kita menikmati sepiring nasi, tanpa sadar ada “jejak karbon” yang tersisa di sana. Sisa itu hadir dari pembajakan lahan, penggunaan pupuk, hingga distribusi ke pasar, nyatanya seluruh proses distribusi pangan meninggalkan emisi gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap perubahan iklim. Buku “Pro Kontra Pangan Modern” karya Jim Kerr mengupas sisi ganda dari sistem pangan modern, disatu sisi ia menjamin bahwa ketersediaan makanan bagi miliaran orang, namun di sisi lain menimbulkan konsekuensi ekologis yang cukup berat. Maka dari sanalah muncul pertanyaan penting apakah sistem pangan kita saat ini masih dapat bertahan di tengah tekanan perubahan iklim yang kian menghangatkan bumi?
Pertanian intensif adalah simbol kemajuan abad ke 20 tetapi juga menjadi cermin paradoks abad ke 21. Mesin–mesin besar yang dikerahkan, pupuk sintetis yang terus menjadi pilihan dan bahan bakar fosil yang digunakan membuat lahan pertanian menghasilkan panen yang melimpah. Namun, harga yang harus dibayar adalah dengan meningkatnya emisi karbon dan rusaknya ekosistem tanah maupun air. Menurut Food and Agriculture Organization (FAO 2023), sektor pertanian menyumbang lebih dari 31% total emisi gas rumah kaca global, terutama dari penggunaan pupuk nitrogen dan pembakaran bahan bakar pada proses mekanisasi.
Bagi generasi muda khususnya saya sebagai mahasiswa meteorologi, fenomena ini bukan hanya isu pertanian, tetapi juga bagian dari dinamika atmosfer dan siklus hidrologi yang terganggu. Kini kita menyadari bahwa gas-gas rumah kaca yang dihasilkan bukan hanya di sawah tetapi juga di ladang-ladang yang memperkuat efek pemanasan global. Tentu ini menjadi salah satu hal yang dapat mengubah pola curah hujan, serta meningkatkan frekuensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, kekeringan, dan tanah longsor.
Perspektif iklim menunjukkan adanya keterkaitan erat antara kondisi lahan dan atmosfer. Di mana ketika tanah dipadatkan akibat mesin-mesin berat seperti traktor dan disirami pupuk kimia secara terus menerus maka struktur organik tanah tersebut menurun dan bahkan dapat rusak. Air hujan yang seharusnya meresap beralih mengalir secara cepat ke permukaan yang membawa serta sedimen serta residu bahan kimia menuju Sungai. Proses ini menimbulkan polusi nutrisi yang mengakibatkan eutrofikasi yaitu ledakan pertumbuhan alga yang membuat air tercemar dan membahayakan bagi ekosistem serta menurunnya kadar oksigen akibat dekomposisi alga tersebut.
Juncal et al. 2023, dalam kajiannya yang berjudul “Towards nutrient neutrality: A review of agricultural runoff mitigation strategies and the development of a decision-making framework” menegaskan bahwa limpasan pupuk pertanian merupakan sumber pencemaran air di dunia. Polusi bukan hanya merusak ekosistem akuatik tetapi juga mempengaruhi siklus uap air dan keseimbangan termal wilayah tersebut. Dalam jangka Panjang, tanah akan kehilangan kemampuan menyerap dan menahan air, memicu banjir lebih mudah saat terjadinya hujan ekstrem dan kekeringan parah saat musim kemarau.
Kondisi serupa juga diamati di Indonesia, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika menyampaikan mengenai laporan data cuaca dan iklim tahun 2024 yang menunjukkan bahwa peningkatan intensitas hujan ekstrem terjadi bersamaan dengan meningkatnya kasus longsor di beberapa wilayah pertanian bagian pegunungan. Pola yang terlihat dari peristiwa tersebut tentu menggambarkan bagaimana degradasi lahan dan iklim saling terkait, ketika tanah kehilangan daya resap, maka setiap curah hujan bisa berpotensi menjadi bencana. Namun selain hal-hal tersebut tentu persoalan pangan tidak seketika berhenti di ladang. Di meja makan pun tak luput dari krisis iklim yang berlangsung secara perlahan.
FAO menyebutkan bahwa sepertiga makanan dunia terbuang setiap tahun, menghasilkan gas metana dalam jumlah besar saat membusuk di tempat pembuangan akhir. Selaras dengan hal tersebut Indonesia Research Institute for Decarbonization mengungkapkan bahwa gas metana ini 25 kali lebih kuat dibanding karbon dioksida dalam menjebak panas di atmosfer. Jim Kerr juga menulis bahwa di negara-negara kaya, makanan berlimpah justru menjadi simbol kemakmuran palsu artinya semakin banyak diproduksi, semakin banyak pula yang dibuang. Sementara di negara berkembang, jutaan orang masih berjuang melawan kelaparan. Ketimpangan ini tidak hanya bersifat moral tetapi juga ekologis. Limbah makanan yang kita hasilkan adalah “Emisivitas sunyi” memang tak terlihat tetapi terus menghangatkan bumi. FAO bahkan memperkirakan jika food waste adalah sebuah negara, maka ia menjadi penghasil emisi terbesar di dunia. Artinya setiap piring kosong yang tersisa makanan di dalamnya dan dibiarkan sia-sia di rumah atau restoran sebenarnya turut menyumbang pada krisis iklim global. Untuk keluar dari lingkaran ini, dunia membutuhkan sistem pangan yang cerdas iklim (climate smart food system).
Pendekatan ini menekankan pada tiga pilar utama yaitu produktivitas berkelanjutan, adaptasi iklim, dan mitigasi emisi karbon. Salah satu model yang mulai berkembang adalah pertanian organik dan regenerative. Praktik ini menolak ketergantungan pada pupuk kimia, menggantinya dengan pupuk alami dan rotasi tanaman. Tanah yang sehat tentu berperan penting sebagai penyerap karbon alami, menyimpan air, dan memperbaiki mikrobiota tanah. Wiltshire dan Brian dalam kajiannya mengenai “Soil carbon sequestration through regenerative agriculture in the U.S. state of Vermont” menjelaskan bahwa tanah yang dikelola secara regenerative dapat menyimpan hingga 2,5 miliar ton karbon per tahun, mengurangi konsentrasi CO2 di atmosfer dan memperlambat pemanasan global.
Teknologi modern dapat dimanfaatkan untuk efisiensi di mana pertanian presisi yang menggunakan data cuaca, sensor kelembaban dan citra satelit memungkinkan akses informasi lebih andal bagi petani untuk mengetahui kapan waktu terbaik menanam dan memupuk. Selain itu penggunaan data iklim dalam praktik pertanian tropis dapat memberikan solusi untuk memantau perubahan iklim, memprediksi resiko dan juga merancang strategi adaptasi pertanian yang lebih efektif. Generasi muda memiliki peran strategis dalam memanfaatkan pengetahuan tentang dinamika atmosfer, curah hujan, dan variabilitas iklim. Peran tersebut dapat menjadi jembatan antara ilmu cuaca dan praktik pertanian yang berkelanjutan.
Data meteorologi tidak sekadar alat yang berfungsi memprediksi tetapi juga berperan krusial dalam membangun pondasi sistem pangan yang adaptif terhadap perubahan iklim. Krisis iklim bukan masalah yang hadir secara tiba-tiba, tetapi akumulasi dari keputusan-keputusan kecil yang diambil selama puluhan tahun bahkan lebih. Generasi muda kini memegang peranan penting untuk memutus rantai tersebut. Kita bisa memulai dari langkah sederhana seperti mengurangi limbah makanan, memilih bahan pangan lokal, mendukung pertanian organik dan menyuarakan kebijakan hijau di ruang publik.
Sebagai generasi muda kita memiliki tanggung jawab untuk menjadikan ilmu yang dipelajari sebagai alat perubahan, cuaca dan iklim bukan sekadar data di layar komputer, melainkan realitas yang menentukan kehidupan manusia dan kesimbangan ekosistem. Setiap kali memilih makanan, kita sebenarnya sedang ikut andil dalam menentukan arah bumi ini, apakah menuju keberlanjutan atau kehancuran secara ekologis. Jim Kerr menulis, masa depan pangan bukan tentang “seberapa banyak yang kita hasilkan”, melainkan “bagaimana kita bisa menghasilkan tanpa menghancurkan sumbernya”.
Jejak karbon di piring kita adalah cerminan hubungan manusia dan alam. Setiap butir beras, setiap sayur, setiap daging memiliki kisah panjang tentang energi, air, tanah, dan udara yang terlibat dalam prosesnya. Ketika sistem pangan diatur tanpa memperhatikan keseimbangan iklim, maka bumi membalasnya melalui kekeringan, banjir, dan longsor yang kini marak terjadi. Namun, perubahan masih sangat mungkin. Dengan tekad dan kesadaran serta ilmu juga kolaborasi yang kuat, kita bisa mentransformasi sistem pangan menjadi lebih berkelanjutan dan selaras dengan rantai kehidupan yang ramah bumi. Pertanian cerdas iklim bukan utopia semata, melainkan keniscayaan yang harus diperjuangkan oleh kita, untuk hari ini dan generasi berikutnya di masa mendatang.
Ditulis oleh: Destriyani Fuji Lestari, Mahasiswa Departemen Geofisika dan Meteorologi, IPB University.
Reference:
Kerr J. 2009. Pro dan Kontra Pangan Modern. Solo: Tiga serangkai Pustaka mandiri. 44 hlm.
[BMKG] Badan meteorologi, klimatologi dan geofisika. Mengenai laporan data cuaca dan iklim tahun 2024.
[FAO] Food Agriculture Organization of the United Nations. Green House gas emissions from agrifood systems global, regional and country trends, 2000-2022.
[FAO] Food Agriculture Organization of the United Nations. Green House gas emissions from agrifood systems global, regional and country trends, 2001-2023.
Handoyo, M.A.P. Asri, N.P. 2023. Kajian tentang food loss dan food waste: kondisi, dampak, dan solusinya. Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian. 10(2):247-258.
[IRID] Indonesia Research institute for decarbonization. IRID | Indonesia Research Institute for Decarbonization
Juncal, M.J.L Masino, P. Bertone, E. Stewart, AR. 2023. Towards nutrient neutrality: A review of agricultural runoff mitigation strategies and the development of a decision-making framework. Science of the Total Environment (Elsevier). 1-28.Wiltshire, S. Brian, B. 2022. Soil carbon sequestration through regenerative agriculture in the U.S. state of Vermont. Journal of plos climate. 1(4):1-23.