web analytics

Gastronomi Lokal Hadir di Side Event Festival Golo Koe 2025: Merawat Budaya, Menguatkan Pangan Berkelanjutan

24
Aug

Labuan Bajo, 13 Agustus 2025 – Konsorsium Pangan Bernas yang terdiri dari Yayasan KEHATI, KRKP (Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan), dan YAKINES (Yayasan Komodo Indonesia Lestari) dengan dukungan Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial melalui program Urban Futures (UF) di Manggarai Barat, sukses menggelar kegiatan eksplorasi gastronomi sebagai bagian dari Side Event Festival Golo Koe 2025 di Labuan Bajo.

Side event festival golokoe ini, Konsorsium Pangan Bernas mengakat tema “Merawat Budaya, Menguatkan Pangan Berkelanjutan”. Tema ini dipilih sebagai turunan dari festival Golokoe 2025 yang mendorong kuatnya Kebangsaan dan Pariwisata Berkelanjutan yang Sinodal dan Inklusif. Side event ini hadir sebagai ruang bagi orang muda untuk menggali kembali nilai-nilai budaya lokal, memperkuat solidaritas antar komunitas, sekaligus mendorong kesadaran akan pentingnya sistem pangan berkelanjutan.

Salah satu kegiatan dari side event ini adalah kelas gastronomi lokal yang diselenggarakan pada tanggal 13 Agustus 2025 dengan mengambil tempat di rumah makan Senja Eatery, Labuan Bajo. Pada kelas ini hadir Meilati Murniani dari Yayasan Nusagastronomi sebagai pembicara utama. 

Akhmad Zainal Mubarak, program manager UF dari Yayasan Kehati, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa kegiatan ini dilakukan dengan tujuan memperkuat kesadaran dan keterlibatan orang muda sekaligus menghidupkan kembali budaya lokal melalui cerita, rasa, dan aksi nyata. “Pada kegiatan ini kita ingin mengajak anak muda memahami bahwa makanan bukan hanya sekadar untuk menghilangkan rasa lapar, tetapi juga mengandung nilai-nilai budaya. Harapannya, kita semua terus memiliki rasa ingin tahu terhadap makanan dan cerita di baliknya” sambung Zainal. 

Meilati Murniani, narasumber kegiatan, mengatakan bahwa makanan adalah pintu masuk untuk menyentuh hati setiap orang. Gastronomi, berbeda dengan kuliner, tidak hanya berbicara soal memasak dan menyajikan, tetapi juga mencakup nilai budaya, sejarah, serta filosofi yang terkandung dalam makanan lokal. 

Di Indonesia, sektor kuliner menyumbang 42% dari total ekonomi kreatif, sementara di banyak negara maju, wisata gastronomi mampu menyumbang 20-30% dari pendapatan pariwisata.

“Indonesia memiliki potensi gastronomi yang sangat kaya. Jika diolah dengan baik, gastronomi dapat menjadi daya tarik wisata sekaligus pendorong ekonomi lokal yang lebih berkelanjutan,” jelas Meilati.

Kegiatan ini diikuti oleh 30 orang peserta yang terdiri dari orang muda dampingan Pangan Bernas, mahasiswa Politeknik eL Bajo Commodus dan komunitas orang muda lainnya. Mereka terlibat dalam diskusi, praktik langsung memasak resep tradisional dan membuat narasi pangan berisi cerita budaya untuk desa masing-masing. Melalui proses tersebut, generasi muda diajak untuk tidak hanya menikmati makanan, tetapi juga memahami, mencintai, dan melestarikan akar sosial-budaya tempat mereka berpijak.

Theresia A. Kartika Sari alias Ketty orang muda Wae Lolos mengungkapkan kegiatan ini sangat berharga baginya karena membawa kesadaran baru bahwa makanan tradisional itu bukan sekadar resep lama, tapi punya cerita dan nilai budaya yang kuat. Ada kebanggaan dan memperkuat kesadaran tentang pentingnya menjaga pangan lokal. 

“Kegiatan ini membuka mata saya bahwa menjaga pangan lokal berarti juga menjaga identitas kita. Ternyata proses sederhana seperti menumbuk bumbu dengan cara tradisional bisa jadi daya tarik wisata” ujar Ketty. 

Melalui side event ini, Festival Golo Koe 2025 tidak hanya menjadi ruang perayaan budaya, tetapi juga momentum pembelajaran lintas generasi untuk memperkuat ketahanan pangan lokal. 

“kami ingin dengan menguatnya pemahaman gastronomi pada orang muda akan tumbuh jembatan solidaritas, identitas budaya, dan jalan menuju kuatnya sistem pangan di Labuan Bajo” pungkas Zainal.