Page 59 - Petani Indonesia Dalam Belenggu Pasar Bebas
P. 59

Petani Indonesia Dalam Belenggu Pasar
                        1.  Keinginan  untuk  memperoleh  manfaat  dari  perluasan  pasar  dunia  sebagai
                            konsekwensi dari liberalisasi perdagangan global
                        2.  Kemauan  untuk  memperbesar  investasi  luar  negeri  di  Indonesia  untuk
                            mendukung pertumbuhan ekonomi
                        3.  Harapan  untuk  memperoleh  skema  peningkatan  kapasitas  dan  kerjasama
                            teknis untuk meningkatkan daya saing dalam kompetisi global

                     Namun  demikian  partisipasi  Indonesia  dalam  berbagai  kesepakatan  perdagangan
                     bebas baik dalam konteks multilateral, regional dan bilateral mengandung beberapa
                     konsekwensi penting yaitu:
                        1.  Keterbukaan pasar dalam negeri dari produk impor sebagai konsekwensi dari
                            penurunan tarif dan penghapusan hambatan non tarif
                        2.  Terbatasnya peran pemerintah dalam memberikan bantuan atau subsidi bagi
                            kelompok kelompok marginal
                        3.  Masuknya investasi asing pada sektor sektor strategis dalam negeri

                     Dari studi literatur nampak jelas bahwa liberalisasi perdagangan sebagai jalan untuk
                     memperluas  pasar  bebas  cenderung  mencari  jalur  jalur  yang  paling  efektif  dan
                     fleksibel, hal ini nampak dari kemacetan perundingan perdagangan bebas multilateral
                     dalam WTO, telah mendorong menjamurnya berbagai kesepakatan FTA. Hal ini tidak
                     bisa  dilepaskan  dari  kepentingan  negara  maju  untuk  terus  mengakselerasi  dan
                     memperluas  akses  pasar  bagi  produk  mereka  ke  negara  berkembang.  Dengan  BTA,
                     negara maju lebih efektif untuk menekan negara mitra terutama negara berkembang
                     karena pada umumnya seringkali dikaitkan dengan isu‐isu non perdagangan. Dalam
                     BTA,  pada  umumnya  negara  yang  lebih  kuat  secara  ekonomi  akan  cenderung
                     mendominasi  dan  progresif  untuk  meraih  keuntungan  dari  kesepakatan  untuk
                     perdagangan bebas, dibanding dengan negara yang lemah secara ekonomi.

                     Indonesia  merupakan  salah  satu  negara  yang  aktif  terlibat  dalam  perjanjian
                     perdagangan  bebas.  Dalam  konteks  multilateral,  Indonesia  merupakan  meratifikasi
                     pembentukan  WTO  pada  tahun  1994.  Ratifikasi  ini  memberikan  konsekwensi  pada
                     kewajiban Indonesia untuk mematuhi segala aturan dalam WTO, sebaliknya memiliki
                     hak  untuk  tidak  didiskriminasikan  dalam  percaturan  perdagangan  internasional.
                     Indonesia juga aktif untuk membentuk AFTA, sebuah pakta perdagangan bebas dalam
                     region ASEAN sejak tahun 1992, dan efektif berlaku sejak tahun 2003. Secara umum
                     sejak ratifikasi WTO dan AFTA, Indonesia terikat komitmen untuk penurunan tarif dan
                     penghapusan hambatan non tarif.

                     Walaupun  ASEAN  telah  menjadi  sebuah  pakta  perdagangan  bebas,  namun  volume
                     perdangangan  intra‐ASEAN  tidak  terlampau  besar  karena  sesungguhnya  negara
                     negara di ASEAN memiliki karakteristik produk yang sejenis sehingga ASEAN tidak bisa


                     Analisis dan Rekomendasi                                                           51
   54   55   56   57   58   59   60   61   62   63   64