Page 11 - Petani Indonesia Dalam Belenggu Pasar Bebas
P. 11
Petani Indonesia Dalam Belenggu Pasar
pengamanan (special safeguard mechanism) dengan menaikan tarif ketika terjadi
penurunan harga produk pertanian dalam negeri akibat impor berlebih. Namun
demikian perjuangan ini tidak mudah karena terus mendapatkan tentangan dari
kelompok negara maju, yang terus memaksakan kehendak untuk memperluas akses
pasar mereka ke negara berkembang.
Isu pertentangan tersebut merupakan satu dari beberapa perbedaan tajam antara
negara maju dan berkembang yang mengakibatkan kebuntuan dalam perundingan.
Sampai saat ini perundingan yang berlangsung belum mampu menghasilkan
kesepakatan walaupun telah berlangsung hampir lebih dari satu dekade. Kebuntuan
ini tidak menyurutkan jalan bagi perluasan pasar bebas di berbagai kawasan, namun
sebaliknya justru membuat pasar bebas terdispersi secara intensif dalam bentuk
berbagai kesepakatan perdagangan bebas (Free Trade Agreement/FTA) baik pada
tingkat kawasan maupun secara bilateral (Bilateral Trade Agreement/BTA).
Menjamurnya berbagai kesepakatan perdagangan bebas (FTA/BTA), ketika kemacetan
perundingan multilateral adalah menggambarkan bahwa negara maju mulai mencari
peluang untuk mempercepat arus liberalisasi perdagangan dengan cara lain. Dengan
FTA, negara maju lebih leluasa dan efektif untuk menekan negara berkembang agar
secepatnya membuka pasar. Secara politis, FTA terutama dalam format kerjasama
bilateral (BTA) seringkali dikaitkan dengan isu‐isu lain non perdagangan seperti
kepentingan politik luar negeri negara maju.
Dari uraian di atas, maka pertanian dan petani Indonesia menghadapi tantangan yang
besar terkait dengan perdagangan bebas. Di tengah berbagai masalah domestik,
belenggu pasar bebas menjadi salah satu permasalahan serius yang patut mendapat
perhatian. Pemerintah Indonesia yang telah menjalin kesepakatan perdagangan bebas
pada tingkat ASEAN (AFTA), ASEAN plus three, dan berbagai kerangka kesepakatan
perdagangan bebas ASEAN dengan negara maju seperti ASEAN‐EU. Pada tingkat
perdagangan bebas secara bilateral pemerintah telah membangun kesepatan dengan
China dan Jepang, serta menuju proses dengan Amerika Serikat dan Australia. Hal ini
merupakan sebuah sinyal bahwa intensitas perdangangan bebas termasuk produk
pertanian akan semakin berkembang.
Dalam situasi tersebut maka studi ini bermaksud untuk melakukan kajian lapangan
dan literatur mengenai implikasi FTA/BTA terhadap kehidupan petani. Berbagai kajian
substantif dan akademis tentang FTA/BTA telah banyak dilakukan, sehingga studi ini
akan memfokuskan pada kajian lapangan terutama kasus kasus lapangan yang dialami
oleh petani dari berbagai komoditas pertanian. Studi literatur dilakukan untuk
memberikan informasi tambahan mengenai konteks dan kerangka perdagangan bebas
yang dilakukan serta implikasinya bagi sektor pertanian.
Pendahuluan 4

