Page 10 - Petani Indonesia Dalam Belenggu Pasar Bebas
P. 10
Petani Indonesia Dalam Belenggu Pasar
Berbagai produk buah‐
buahan petani Indonesia
dijual berderet dengan
buah impor yang
harganya lebih murah.
Hal tersebut berbagai kebijakan proteksi dan subsidi yang selama ini dinikmati petani
menjadi dihapuskan, sehingga produk pertanian domestik harus bertarung dengan
produk pangan impor. Dengan kata lain petani Indonesia tanpa proteksi, harus
bertarung dengan produk petani negara maju yang penuh subsidi di pasar bebas, yang
sesungguhnya penuh dengan situasi ketidakseimbangan. Secara kongkret hal ini bisa
kita amati di pasar pasar dalam negeri, membanjirnya produk pangan impor dari
berbagai negara mulai di supermarket, swalayan, pasar tradisional bahkan pedagang
kaki lima.
Situasi ini membuat pertanian dan petani Indonesia tertekan terutama ketika
kebijakan pembukaan pasar secara liberal, tidak sebanding dengan kebijakan insentif
dan dukungan kepada petani bahkan berbagai perangkat proteksi terhadap sektor
pertanian justru dihapuskan. Ruang yang masih dimiliki adalah dimensi pembangunan
dalam kerangka perundingan perdagangan multilateral sektor pertanian dalam WTO,
atau dikenal sebagai Doha Development Agenda (DDA). Pemerintah Indonesia telah
berupaya untuk memperjuangkan klausul proteksi terhadap produk produk pertanian
strategis terutama yang menyangkut ketahanan pangan, penghidupan rakyat dan
pembangunan pedesaan.
Indonesia secara aktif memimpin kelompok negara berkembang dalam perundingan
putaran Doha, untuk mengusulkan agar produk khusus (special product) dikecualikan
dalam komitmen penurunan tarif dan diperkenankan untuk menerapkan mekanisme
Pendahuluan 3

