Page 28 - Bulletin KRKP 001
P. 28

GENDER


        pangan menjadi melihat pertanian sebagai proses yang
                                                                 Pengetahuan mereka dihegemoni menjadi satu pola
        menghasilkan laba.  Perempuan yang semula memegang
                                                                 pertanian dan diberi stigma tradisional. Perempuan petani
        kendali atas sistem produksi pangan, kini harus kehilangan
                                                                 kemudian menjadi sangat tergantung pada industri benih,
        akses dan kontrolnya sejak pangan bertautan dengan
                                                                 tidak bisa lagi mengontrol dan mereproduksi benihnya
        kepentingan ekonomi politik. Keterlibatan perempuan di
                                                                 sendiri.  Misalnya menurut Valentina, perempuan Dayak di
        sektor pertanian hanya merujuk pada sebuah kerja konkret
                                                                 Kalimantan yang mempunyai pengetahuan untuk
        yang berkontribusi pada ketersediaan pangan, yang lebih
                                                                 mengidentifikasi plasma nutfah dan bagaimana menjaga
        sering dianggap sebagai kerja sampingan yang tidak diakui.   dan memeliharanya, perempuan Dani di Papua mampu

                                                                 mengidentifikasikan 70 jenis ubi-ubian, dan perempuan
        Pengetahuan dan pengalamannya dalam konservasi dan       Moi di Sulawesi Tengah mampu mengidentifikasi 40 jenis
        pemanfaatan air dan berbagai jenis hayati diabaikan,
                                                                 tanaman obat, dan bagaimana cara menggunakannya
        ditempatkan pada posisi yang tidak memiliki keahlian dan   untuk pengobatan.

        tidak memiliki tempat untuk eksistensi. Demikian juga
        dengan perannya sebagai pengelola pangan rumah tangga,   Pengetahuan kaum perempuan ini  menjadi tidak berarti,
        pelestari dan penjaga sumberdaya pangan.                 ketika pengetahuan diseragamkan untuk semua wilayah.
                                                                 Pengetahuan perempuan di bidang pertanian senyatanya
        Perempuan tergusur dari sektor pertanian dan sebagian    mempengaruhi kualitas makanan dan ketersediaan
        harus lari ke perkotaan menjadi buruh murah, atau ke luar   pangan. Namun, keahlian ini sama sekali tidak dihargai.
        negeri menjadi buruh migran. Setiap tahunnya terjadi
        peningkatan jumlah buruh migran sekitar 3-5 juta orang, di   Bila dihubungkan dalam kondisi Indonesia, dengan tingkat
        mana 75 % diantaranya adalah perempuan, 90% bekerja di   kelaparan yang masih menempati level serius. Menurut
        sektor informal.                                         data Global Hunger Index 2017, masih terdapat 19 juta
                                                                 orang yang mengalami  kelaparan di Indonesia. Hal ini
        Proses penggusuran perempuan dari pertanian-pangan ini   menunjukkan bahwa program peningkatan produksi
        dimulai pada tahun 1960an sejak Program Revolusi Hijau   dalam Nawacita yang didaulat sebagai program untuk
        diperkenalkan. Paradigma produksi pangan yang mengarah
                                                                 mencapai kedaulatan pangan belum berhasil dalam
        pada industry melalui program ini telah mengakibatkan    memenuhi hak atas pangan warga Negara Indonesia.
        gangguan keterkaitan antara hutan, peternakan dan
                                                                  Pendekatan implementasi program yang dilakukan
        pertanian yang selama ini dipelihara oleh perempuan.     pemerintah masih lebih berpihak kepada laki-laki petani.
        Pertanian dirancang sesuai dengan sifat alam yang mampu

        berproduksi sendiri secara berkelanjutan karena sumber
                                                                 Hasil riset KRKP (2017) tentang pupuk bersubsidi,
        daya yang didaur ulang secara internal telah menyediakan
                                                                 menemukan perempuan tani tidak pernah dilibatkan dalam
        masukan yang diperlukan oleh tanah, tanaman dan
                                                                 Rencana Defenitif Kebutuhan Kelompok (RDKK). Dalam
        ekosistemnya. Keterkaitan ini kemudian direduksi, seolah-
                                                                 proses penyusunan RDKK, masih berorientasi pada
        olah berdiri sendiri tanpa ada hubungan satu dengan yang
                                                                 kelompok tani yang anggotanya semua laki-laki.
        lainnya.
                                                                 Keterlibatan perempuan dalam penyusunan RDKK hanya

                                                                 20%. Kalaupun ada perempuan yang hadir adalah
        Pengetahuan perempuan yang beragam tentang
                                                                 perempuan kepala keluarga atau datang menggantikan
        memproduksi, menyeleksi, menyimpan dan menanam benih
                                                                 suaminya. Kelompok Wanita Tani yang menjadi binaan
        secara dramatic tergusur oleh hasil riset global seperti Pusat
                                                                 Dinas Pertanian, namun mereka tidak diundang dalam
        Penelitian Padi (IRRI) di Philipina dan Pusat Pemuliaan
                                                                 penyusunan RDKK.
        Jagung dan Gandum Internasional (CIMMYT) di Meksiko.








         2 6
   23   24   25   26   27   28   29   30   31   32