Page 3 - Petani Indonesia Dalam Belenggu Pasar Bebas
P. 3

Petani Indonesia Dalam Belenggu Pasar


                     KATA PENGANTAR





                     Dokumen  yang  berjudul  Petani  Indonesia  dalam  Belenggu  Pasar  Bebas  ini  merupakan
                     rangkuman  dari  hasi  penelitian  tentang  Implikasi  Perjanjian  Perdagangan  Bebas  terhadap
                     Kehidupan Petani di  Indonesia. Penelitian ini dilakukan oleh tim peneliti dari Koalisi Rakyat
                     untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), dengan dukungan dari Serikat Bersama Indonesia Berseru
                     (SBIB)  dan  Oxfam  GB.  Penelitian  ini  merupakan  bagian  dari  upaya  untuk  kampanye  untuk
                     mewujudkan perdagangan yang adil termasuk perdagangan produk pertanian.

                     Bagi KRKP, penelitian ini sangat penting terutama karena mewujudkan Perdagangan yang Adil
                     merupakan salah satu pilar dari konsep kedaulatan pangan, selain Reforma Agraria, Pertanian
                     Berkelanjutan  dan  Konsumsi  Pangan  Lokal.  Pasar  merupakan  muara  dari  produk  pertanian
                     yang sebagian besar diproduksi oleh petani dengan skala usaha yang kecil. Oleh karena itu
                     permasalahan pemasaran menjadi salah satu kunci yang menentukan kesejahteraan petani.

                     Sejak  tahun  1990‐an,  Indonesia  telah  mulai  membuka  pasar  pertanian  domestiknya  sejalan
                     dengan  berbagai  komitmen  perjanjian  perdagangan  bebas  baik  dalam  konteks  multilateral,
                     regional maupun bilateral. Sejak meratifikasi World Trade Organization (WTO), tarif impor rata
                     rata produk pertanian cenderung menurun. Dalam konteks regional sebagai pendiri ASEAN,
                     Indonesia  terikat  dalam  ASEAN  Free  Trade  Area  (AFTA)  dimana  tarif  rata  rata  produk  yang
                     tidak tergolong sensitif harus berada pada kisaran 0‐5 %. Pada tahun tahun terakhir, ketika
                     terjadi  kemacetan  dalam  perundingan  perdagangan  multilateral  (WTO),  maka  perjanjian
                     perdagangan  bebas  (FTA)  menjadi  semakin  menjamur  termasuk  yang  dilakukan  oleh
                     Pemerintan  Indonesia  dengan  Jepang  pada  tahun  2007  yang  lalu,  serta  mulai  diaktifkan
                     pembicaraan untuk FTA dengan Amerika Serikat dan Australia.

                     Implikasi  hal  tersebut  bisa  kita  cermati  dengan  membanjirnya  berbagai  produk  pertanian
                     impor  di  pasaran  dalam  negeri,  bukan  hanya  di  supermarket  dan  swalayan  di  perkotaan
                     namun juga membajiri pasaran tradisional dan pedagang kaki lima, bahkan sampai ke wilayah
                     pedesaan.  Tekanan  produk  pertanian  impor  ini  tidak  hanya  menjatuhkan  harga  produk
                     pertanian  domestik,  namun  juga  telah  menggeser  preferensi  konsumen  sehingga  tingkat
                     permintaan produk pertanian impor dari tahun ke tahun semakin meningkat.

                     KRKP sebagai koalisi dari berbagai organisasi masyarakat sipil merasa berkepentingan untuk
                     melakukan kajian tentang dampak perjanjian perdagangan bebas ini terutama bagi kehidupan
                     petani.  Penelitian  ini  disusun  untuk  lebih  memperdalam  kajian  lapangan  dan  memberikan
                     kesempatan bagi petanin untuk turut menyampaikan situasi yang dihadapinya terkait dengan
                     dampak  pasar  bebas.  Hasil  ini  sangat  berharga  bagi  KRKP  sebagai  bahan  untuk  advokasi


                     Kata Pengantar                                                                     iii
   1   2   3   4   5   6   7   8