web analytics

Menghapuskan Budaya Bisu melalui Kegiatan dan Ruang Pembelajaran Bersama

22
Sep

Budaya bisu masih melekat erat dalam setiap individu tidak terkecuali bagi petani. Selama ini partisipasi petani di ruang publik masih rendah dan kesadaran untuk terlibat dalam setiap kegiatan pun masih kurang. Tidak hanya petani, perempuan tani pun juga mengalami hal yang sama. Mereka malu bertanya, dan takut berpendapat karena akan diejek dan diintimidasi oleh yang lain. Budaya masyarakat di kampung yang cenderung pasif namun agresif atau urakan saat ada seseorang yang mereka kenal berpendapat dan tampil di depan umum. Hal itu menjadi hal yang banyak dikhawatirkan oleh petani di Kampung Darim, Desa Kendayakan, Kecamatan Terisi. Oleh karena itu, perlu upaya menghilangkan budaya bisu dan mendorong petani agar berani bersuara. Melalui serangkaian proses kegiatan sharing, diskusi, berbincang santai sehingga rasa kepercayaan diri petani tumbuh.

Pada saat proyek berlangsung, diawal kegiatan. KRKP mengajak masyarakat melakukan kajian konsepsi kerentanan dan resiliensi terhadap dampak perubahan iklim secara partisipatif. Ternyata, masih banyak petani yang diam dan enggan berbicara atau berkomentar dalam proses kajian tersebut. Pada kegiatan FGD pengembangan sistem informasi dan workshop hasil kajian masih banyak petani yang tidak memberikan pendapat. Terkait model sistem informasi yang akan dibangun dan tidak berkomentar atas data hasil kajian yang diperoleh. Berimbas pada pengambilan data primer saat kajian, kegiatan FGD, dan workshop hasil kajian menjadi lebih lama dan harus dilakukan berulang-ulang (berseries) karena harus menumbuhkan rasa kepercayaan diri petani untuk bersuara.

Baca Juga: Menguatkan Gotong Royong melalui Sekolah Lapangan Pertanian Biointensif
Petani Kampung Darim Diskusi Hasil Pengamatan Lahan Biointesif

Hal serupa dialami oleh Kasmad, salah satu petani yang nyambi berjualan air mineral isi ulang di blok Darim. Kasmad mengatakan bahwa tidak berani berkomentar karena takut salah dan diintimidasi yang lain. “Kalo diminta berpendapat, saya tuh takut salah ngomong , terus disorakin dan dibilang sok tahu, sok pintar” ujarnya. Hal tersebut disampaikan dalam bincang santai pengalaman pertanian bersama pelaksana proyek. Kasmad bercerita bahwa masyarakat di blok Darim khususnya petani jika ada yang berpendapat maka akan diklaim merasa pintar dan merasa tahu segalanya. Dan jika salah menyebutkan maka akan diintimidasi setiap hari.

Senada dengan Kasmad, Miskad juga mengalami hal serupa. Terkait pengalaman bersuara di depan publik Miskad yang merupakan seorang buruh tani dan tidak bersekolah merasakan tekanan yang berat. Hal ini terjadi saat akan mengemukan pendapatnya. Masyarakat cenderung memandang rendah ide dan pendapat dari buruh tani yang tidak bersekolah, dan mengklaim mereka tidak tahu apa-apa mengenai permasalahan pertanian dan desa. “Orang suka bilang, saya tuh tahu apa tentang pertanian apalagi mau memberikan ide dan pendapat. Buruh tani dan tidak sekolah pula” ucapnya di sela-sela diskusi rutin kegiatan SL.

Walaupun demikian, Miskad berkeinginan kuat merubah diri agar lebih percaya diri dan berani tampil di depan publik. Untuk menumbuhkan rasa percaya diri Kasmad dan Miskad berbicara di depan publik. Mereka diberi ruang untuk belajar dengan mempresentasikan data hasil temuan dari pengamatan SL setiap minggunya. Setiap satu minggu sekali mereka akan berbicara di depan orang banyak. Selama dua musim tanam padi, mereka rutin mengikuti pertemuan dan pelatihan tematik. Dalam proses belajar di SL, semua orang berhak berpendapat dan tidak ada yang salah dalam berpendapat. Semua petani peserta SL termasuk Kasmad dan Miskad, didorong untuk dapat berpikir kritis dengan mengubah pola pikir melalui perubahan pola bertindak.

Kegiatan mengamati secara rutin, memaparkan hasil temuan lapanan dengan jelas, menganalisis hasil temuan, kemudian menyimpulkan sendiri hasil temuan merupakan rangkaian sekolah lapangan yang selama ini dilakukan. Miskad mengungkapkan bahwa kebiasaan ini membuatnya jadi percaya diri berbicara di depan publik.

“Saya jadi pede ngomong di depan orang banyak karena sering presentasi pada saat SL. Pendapat saya selalu dihargai oleh semua peserta, itu yang membuat saya pede. Selain itu, saya juga belajar untuk bicara sesuai data yang telah saya amati sendiri” ucapnya di sela-sela pelatihan menjadi agen perubahan desa di Tani Center IPB.

Selain dari sekolah lapangan, mereka juga belajar berbicara melalui media komunikasi radio komunitas. Sejak awal berdirinya radio ini, Kasmad diberi ruang sebagai penyiar radio. “Jujur, ini merupakan pengalaman pertama saya seumur hidup, belum pernah jadi penyiar” katanya. Walaupun berangkat dari keterpaksaan, Kasmad bertekad untuk berlajar dan terus meningkatkan kemampuannya dalam berkomunikasi. Sehingga sampai saat ini, Kasmad selalu ditunggu-tunggu kehadirannya oleh pendengar setia radio komunitas Swara Darim. “Kalau dulu saya tidak dipaksa jadi penyiar, mungkin saya masih gemetaran sampai sekarang kalau ngomong di depan orang banyak” ungkapnya dalam sela-sela kegiatan siaran langsung radio.

Kemampuan yang dimiliki oleh Kasmad dan Miskad saat ini, cukup mengubah pandangan masyarakat mengenai stigma petani dan buruh tani yang pasif berbicara di ruang publik. Bahkan mereka diberi kepercayaan oleh masyarakat untuk menjadi “penghubung” ke pemerintah desa. Kasmad dan Miskad beberapa kali telah melakukan diskusi dan lobi ke kepala desa untuk dalam menyampaikan aspirasi dan kepentingan masyarakat Darim. Sekarang petani di kampung Darim telah memiliki rasa kepercayaan diri yang tinggi dalam berpendapat di depan publik.

Dengan demikian Kasmad dan Miskad menjadi contoh bagi petani lain dan telah membuktikan bahwa siapapun memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, tidak terbatas umur, profesi, dan status sosial melalui ruang-ruang belajar yang telah dibangun bersama di masyarakat. Mereka percaya bahwa dengan belajar dan berproses, maka tidak mustahil perubahan itu akan tercapai ke arah yang lebih baik termasuk terhadap lingkungan pertanian. (WRN)

Leave a Comment