web analytics

LUMBUNG PANGAN DESA: MITIGASI KERAWANAN PANGAN TERHADAP BENCANA ALAM DESA PENDUA, KAYANGAN, LOMBOK UTARA

Lombok Utara 26/8/2019. Pemerintah Desa Pendua membangkitkan kembali Lumbung Pangan komunal di desa. Lumbung pangan atau dalam Bahasa asli Lombok Utara adalah “Sambi”. Pada masa silam sambi merupakan tempat menyimpan hasil pertanian pangan sebagai strategi ketahanan pangan keluarga. Namun dengan masuknya budaya pertanian yang hit and run membuat sambi menghilang begitu saja. Namun kini masyarakat mulai sadar akan pentingnya suatu system penyangga pangan dalam lingkup desa. Kesadaran ini mulai muncul ketika terjadi gempa pada tahun 2018 silam. Gempa bumi dengan magnitude sampai 7 SR yang mengguncang Lombok memporak-porandakan bangunan rumah, psikologi warga dan perekonomian di desa Pendua dan sekitarnya. Perekonomian lumpuh dan kebutuhan pokok yang mendasar bagi manusia yaitu makan harus tetap bisa dicukupi untuk keberlangsungan kehidupan warga desa Pendua. Aktifitas pasar jual-beli komoditas pangan bisa dibilang mati. Padahal warga menggantungkan pangannya dari proses jual beli. Karena ketika panen, hasil pertanian tanaman pangan hampir semua dijual ke pasaran. Melihat situasi pasca gempa ini, pemerintah desa beserta masyarakat mulai berfikir ulang, bahwa pangan harus ditata supaya masyarakat berdaulat dan mampu pulih secara cepat ketika terjadi bencana alam seperti gempa di akhir tahun silam.

Kepala desa Pendua, Saudara Abu, menyatakan bahwa Sambi atau lumbung bukan lagi dimaknai sebagai tempat menyimpan, tapi harus dimaknai lebih dari itu, yaitu sebagai system pangan desa yang memiliki fungsi produksi pangan, menyimpan pangan dan mendistribusikan pangan pada warga dan waktu yang tepat. Desa Pendua memiliki keunggulan komparatif utamanya pada sub sector pertanian, peternakan dan perikanan darat. Luas lahan produksi pangan sekitar 695 Ha, terdiri dari lahan produksi padi sawah, lahan produksi palawija, lahan produksi sayur mayur, buah-buahan dan lahan produksi untuk perkebunan. Untuk peternakan diantaranya adalah kambing, sapi, ayam kampung, bebek sementara untuk unggulan perikanan darat adalah budidaya ikan Nila.

Mimpi kolektif membangunkan kembali sistem lumbung ini sudah dimulai sejak mei 2019 lalu. sejak itu pula pemerintah desa mulai membangun komunikasi dengan parapihak baik dari tataran internal pemerintah desa, pemerintah kabupaten, dan Lembaga non pemerintah baik yang ada di Lombok utara maupun Lembaga internasional seperti Oxfam di Indonesia. Beberapa tahapan lainnya adalah melakukan pemetaan dan identifikasi sumber pangan di desa pendua, menghitung neraca pangan di desa pendua dan dalam kesempatan ini (26/8/2019) pemerintah melaksanakan Temu Warga untuk menguatkan rancangan Roadmap Sistem Pangan Desa di kantor Desa Pendua. Temu warga ini diikuti oleh berbagai pihak diantaranya adalah warga desa pendua baik mereka yang Bertani maupun tidak, pimpinan Majlis Kerama Desa, kelompok pemuda, kelompok wanita tani, kemudian ada dari dinas Pertanian, dinas ketahanan pangan dan Bappeda Kabupaten Lombok Timur. “Roadmap lumbung pangan desa pendua ini merupakan panduan langkah-langkah kecil untuk mencapai mimpi besar yaitu desa yang cukup pangan dan bermanfaat bagi masyarakat desa”, tutur Pak Abu.

Sumber-sumber pangan yang ada di desa pendua ini cukup banyak dan beragam. Namun dalam konteks ini, identifikasi ditekankan pada sumber karbohidrat yang banyak diproduksi oleh petani di desa pendua. Sumber pangan tersebut adalah tanaman padi. Padi di desa pendua, secara keseluruhan berada pada luasan lahan tanam 315 Ha. Luasan ini setara dengan produksi gabah kering panen (GKP) sebesar 1.575 ton sekali musim. Di desa pendua untuk menanam padi sebanyak 2 kali, sehingga dalam setahun memproduksi 3.150 ton GKP atau 1.953 ton beras. Sedangkan kebutuhan beras berdasarkan jumlah penduduk desa pendua dengan jumlah 2.653 jiwa adalah 1.827 ton. Angka ini menunjukkan bahwa desa pendua surplus hasil panen  sebesar 126 ton ton per tahun.

“Surplus dan total produksi ini harus dikelola dengan baik supaya masyarakat dapat terpenuhi pangannya sepanjang tahun, apalagi saat terjadi kejadian luar biasa seperti gempa bumi. Tata kelola dalam bentuk Lumbung pangan komunal inilah yang sedang digagas oleh pemerintah desa pendua. Pada waktu yang bersamaan Peneliti sekaligus manajer program hak atas Pangan dari Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Hariadi, menyatakan bahwa, “Lumbung pangan komunal ini merupakan langkah strategis dan mitigative terhadap kondisi rawan pangan di desa pendua dimana daerah ini cukup rawan dengan musibah gempa bumi”.

Strategi Livelihood rumah tangga petani di desa Pendua saat ini memiliki 2 pola. Pola pertama adalah menanam tanaman pertanian dimana 75% hasilnya disimpan untuk kebutuhan pangan di dalam rumah tangga. Pola ke dua adalah dengan menjual sisa 25% panenya ke pedagang dan menjual hasil panen pertanian lainnya ke pasaran. Selain pertanian tanaman pangan, di desa ini terdapat pertanian kebun dan hortikultura. Pertanian kebun diantaranya adalah kopi, kakao, cengkeh, durian, kelapa, pisang dan rambutan. Sedangkan pertanian hortikultura adalah bawang merah, cabai, tomat, kacang panjang, terong dan timun.

Pada kesempatan ini pula, setiap parapihak menyampaikan peran dan kontribusinya untuk tercapainya kebijakan lumbung pangan dan implementasi dari lumbung pangan ke depan. Dinas ketahanan pangan, Kepala Bidang Ketahanan pangan, Bapak Munhayadi, menyatakan

dinas akan dengan senang hati dalam mendorong lumbung ini melalui program pemodalan bagi produsen maupun pelaku usaha hortikultura dan mendorong adanya pengolahan hasil panen”.

Sedangkan dari Kepala Bidang Keanekaragaman Rumah Pangan Lestari, DInas Ketahanan Pangan, Bapak Sahna berujar “saya akan mendorong sepenuhnya untuk optimasisasi pekarangan warga untuk memproduksi hortikultura, untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga”. “saya tentunya akan komitmen penuh atas eksistensi lumbung pangan ini, komitmen itu dalam bentuk penyusunan peraturan desa dan penganggaran untuk program ini” ujar bapak kepala desa dan sekaligus menutup acara temu warga ini.