web analytics

Para Pembelajar Tangguh dari Desa Muara Merang

08
Mar

Desa Muara Merang, dampak jangka panjang terhadap lingkungan yang ditimbulkan perusahaan perkebunan dan ekstraktif memaksa para pekebun karet memutar otak agar tidak bergantung pada pangan dari luar untuk memenuhi kebutuhan nutrisi harian mereka. Menderas karet menjadi tumpuan bagi sebagian besar masyarakat untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah demi menyalakan api di dapur. Setiap hari menguliti pohon karet dengan pisau khas, menyirami pupuk cair ke pohonnya, menyemprot rumput dengan racun dan memastikan getah karet tidak basah. Hal itu dilakukan sejak pagi yang berkabut tebal.

Tak terkecuali perempuan. Di desa Muara Merang, perempuan adalah tulang punggung produksi karet. Mereka berangkat menderas setiap pagi, terbangun di pagi buta untuk mempersiapkan makanan untuk keluarga, mengurus anak yang hendak berangkat sekolah, maupun mengerjakan urusan domestik rumah tangga. Kebun karet menjadi area peperangan mereka, melawan sepi dan sunyi demi mengais pundi rejeki. Setiap hari sejak pagi hingga siang. Sesekali hingga sore, jika tanaman-tanaman karet tersebut memerlukan perhatian yang lebih. Peran mereka tidak hanya itu. Satu lagi peran perempuan yang sangat penting di wilayah ini adalah menyediakan asupan pangan melalui keterampilan tangan mereka bertani di pekarangan. Produksi mereka memang tidak seberapa, namun dari tangan merekalah sumber nutrisi penting masyarakat sekitar desa dihasilkan. Dalam kacamata pembangunan desa, peran-peran mereka kadang tak terlihat dan luput untuk menjadi perhatian.

Kartini dan ketekunannya bertani

Di Dusun Bakung, Desa Muara Merang, beberapa orang ketika ditanyai tentang petani karet perempuan, nama Kartini tidak akan luput dari ingatan mereka. Perempuan ini dikenal masyarakat sebagai perempuan yang memiliki pengalaman dan ketekunan luar biasa dalam bertani karet. Kartini tinggal bersama dua orang anaknya, satu menantu, dan tiga orang cucunya. Dia dikenal masyarakat sekitar sebagai seorang perempuan yang sangat sibuk di lahan. Setiap pagi sekitar pukul 5.30 dia sudah beranjak ke kebun karet seluas 4 hektar miliknya, mengendarai motor

bebek hitam yang menjadi teman setianya bertani karet yang berjarak tempuh sekitar 30 menit dari rumahnya. Dia bekerja di kebun hingga siang hari, bahkan terkadang hingga sore hari jika kebun karetnya memerlukan perhatian yang lebih, terutama ketika rumput telah tumbuh lebat atau menebas kayu-kayu.

Ketenaran Kartini tidak muncul begitu saja. Masyarakat mengenalnya sebagai perempuan pekerja keras yang sukses. Dia mengerjakan usaha kebun karetnya 4 hektar seorang diri hingga mampu membiayai segala kebutuhan anggota keluarganya. Inspirasi tersebutlah yang membuat masyarakat sekitar memberikan penghargaan yang tinggi pada sosok Kartini.

Kartini (52) telah menetap di Desa Muara merang sejak usianya 7 tahun. Saat itu dia mengikuti kedua orang tuanya yang bekerja sebagai petani merantau ke wilayah ini. Sama seperti kisah masyarakat pendatang pada umumnya, awal kedatangan mereka dari Pangkalan Balai (Kabupaten Banyuasin) ke desa Muara Merang tidaklah semulus yang dibayangkan. Mereka datang menyusuri sungai Lalan, keluar masuk Muara Merang hingga akhirnya menemukan pekerjaan yang bisa menopang penghidupan mereka desa ini.

Sekitar tahun 2013 hingga 2014 Kartini dan keluarganya bertani sawah. Karena kendala hama, iklim dan keruwetannya, dia beralih ke karet. Keberadaan karet unggul yang mampu menghasilkan getah di tahun keempat memicu masyarakat di Desa Muara Merang yang tadinya bertanam padi di pinggir sungai berbondongbondong menjadi petani karet.

Baca Juga: MENYOAL WADAS, TAMBANG, DAN BENDUNGAN: INVESTASI ATAU PEMBOROSAN?

Sebelumnya, mereka mengusahakan karet alam yang panennya bisa di atas 8 tahun, dibarengi dengan padi. Momentum kejayaan karet unggul di desa kala itu menjadi momentum hilangnya usaha tani padi di pinggiran desa Muara Merang. Bagi Kartini, berkebun adalah aktivitas Pelepas penat sekaligus sebagai laboratorium pertanian pribadi miliknya, “Daripada capek-capek dari kebun, lihat buahnya, lihat kembang”, ungkapnya. Saat dikunjungi di pekarangan, dirinya sedang menanam anak pisang. Aktivitas tersebut baginya hanya usaha coba-coba. Begitupun dengan berbagai tanaman sayur dan buah-buahan yang ada di pekarangan rumahnya, seperti durian, cabai, sirsak, dan buah naga, “Lebih baik dicoba-coba dulu, kalau bagus lanjut, kalau gagal berenti. Air dekat, sumur juga ndak terlalu jauh digali”, ujarnya.

Dirinya memang gemar mencoba hal baru dan saat ini tengah mengembangkan buah naga, setelah gagal menanam coklat. Dia penasaran dengan bibit buah naga berdaging kuning dan ungu yang infonya dia dapatkan dari majalah trubus milik tetangganya, “Aku mau tanya tentang buah naga, di majalah trubus itu kan ada kuning, hitam. Aku waktu cari di pemekaran itu tidak katik (tidak ada). Rencananya itu kan biar lengkap yang warna

kuning, hitam. Kalau di sini naga ini nampaknya cocok. Biar tidak Cuma karet bae (saja), biar ada yang lainnyo”. Sudah hampir dua tahun buah naga ini dia kembangkan. Dia juga menanam buah naga di kebun karet miliknya, tetapi semua habis dimakan hama babi maupun monyet.

BACA JUGA: Lepas dari Ketergantungan Pangan di Desa Berlian Jaya

Kartini memperoleh bibit buah naga dari teman sesama petani di acara pengajian di RT 13. Hal tersebut membuktikan bahwa dia banyak memiliki koneksi dan jaringan, saling berbagi bibit. Dalam prakteknya dia juga dengan telaten membungkus buah yang ditanamnya. Dirinya mengaku belum pernah mengikuti pelatihan bibit unggul atau praktek dari pemerintah maupun Lembaga manapun meski di wilayah Muara Merang begitu banyak lembaga yang keluar masuk memberikan pelatihan bagi apra petani. Informasi mengenai buah naga hanya dia dapatkan berdasarkan inisiatif sendiri.

Karena telah banyak mengalami kegagalan mengembangkan tanaman non-karet, Kartini sangat mengharapkan adanya pelatihan terkait pemuliaan dan penggunaan input yang efektif.

“Maulah ikut biar tambah pengalaman biar tahu cak mano bikin yang unggul, yang bagus. Kalau misalnya penyakit hama yang kecil-kecil itu kan obatnya itu apo. Biar tau kan penyakit itu apa, misalnya durian, misalnya daunnya ndak galak mekar, sering bercakbercak misalnya kan, hamanya apo. Ini ya dak tau, Cuma iseng-iseng bae, dipupuk itu mak mano, kira-kira dosisnya brapo, cuman cobo-cobo. Kalau mupuk itu kayak mano”, ungkapnya.

Translate »